Kekecewaan Herry sangat beralasan jika menilik rekam jejaknya yang fenomenal. Selama 25 tahun mengabdi sebagai pelatih nasional di Indonesia, ia telah mengoleksi 10 gelar juara All England dari berbagai pasangan ganda putra asuhannya.
Kini, bersama Malaysia, Herry masih berupaya mereplikasi kesuksesan tersebut di turnamen bulu tangkis tertua di dunia ini. Meski mengaku kecewa karena belum bisa membantu Aaron/Soh pecah telur di Super 1000, Herry tetap melihat sisi positif dari performa ganda nomor dua dunia tersebut.
Baginya, keberhasilan mencapai tiga final Super 1000 secara berturut-turut adalah bukti bahwa grafik permainan Aaron/Soh semakin stabil. Ia mengapresiasi kemampuan mereka yang tetap konsisten menjalankan strategi meskipun berada di bawah tekanan besar.
"Di satu sisi, saya kecewa karena tidak membantu Aaron-Wooi Yik menjadi juara, tetapi ada juga beberapa hal yang menggembirakan dari Birmingham," sambung Herry.
"Saya senang melihat mereka semakin konsisten di turnamen besar dan mampu tetap berpegang pada rencana permainan bahkan ketika mereka berada di bawah tekanan,” tutupnya.
(Rivan Nasri Rachman)