JAKARTA – Herry Iman Pierngadi (Herry IP) kesulitan untuk memecah pasangan Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari serta Rehan Naufal Kusharjanto/Lisa Ayu Kusumawati. Gaya permainan kedua pasangan jadi alasan.
Rinov/Pitha dan Rehan/Lisa bisa dibilang memiliki prestasi yang kurang mentereng sebagai ganda campuran teratas di Pelatnas PBSI saat ini. Padahal, mereka sudah lama berpasangan tetapi sangat sulit untuk konsisten berada di peringkat 10 besar dunia dan memenangkan gelar.
Oleh karenanya, bertukar pasangan menjadi salah satu opsi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan prestasi. Hal itu memang lazim dilakukan oleh banyak pebulu tangkis kelas dunia.
Di Indonesia sendiri baru-baru ini ada Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin dan Muhammad Shohibul Fikri/Bagas Maulana di sektor ganda putra yang melakukan perombakan. Setelah berganti pasangan, mereka terbukti bisa berulang kali masuk semifinal dan meraih gelar juara.
Akan tetapi, Herry menilai opsi pergantian pasangan tersebut sulit dilakukan pada Rinov/Pitha dan Rehan/Lisa. Sebab, duet ranking 15 dan 23 dunia itu memiliki gaya bermain yang berbeda sehingga tidak akan cocok jika saling ditukar satu sama lain.
“Kemungkinan (perombakan pasangan) itu kecil. Karena kenapa? Dari tipe permainannya itu agak beda. Jadi kalau Rinov sama Tari -sapaan Pitha- itu tipenya agak menyerang kalau Lisa sama Rehan itu tipenya agak defence-serang balik,” kata Herry kepada awak media termasuk MNC Portal Indonesia (MPI), saat ditemui di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta, Rabu 6 November 2024.
“Tipenya beda, kalau kami silang pola mainnya nanti berubah lagi. Jadi setiap pemain itu kan punya pola masing-masing, punya karakter pola main, ini kalau dipisah menurut saya sebagai pelatih enggak klop, enggak masuk,” tambah Coach Naga Api.
Herry paham betul pencinta bulu tangkis Tanah Air ingin ganda campuran Indonesia bisa segera konsisten bersaing di level tertinggi dengan para pasangan papan atas dunia. Namun, menurutnya tak bisa terburu-buru karena semuanya perlu melalui proses lebih dulu.
“Memang masyarakat, PBSI, itu semuanya mau cepat-cepat (ganda campuran Indonesia naik ke level atas). Enggak bisa, ada prosesnya,” jelas Herry.
“Ini memang kami mulainya sudah telat, ketinggalan di bawah dibandingkan negara-negara lain. Tapi sedikit banyak kami ada di tengah sekarang. Pelan-pelan lah saya berusaha mencoba supaya mengangkat mereka supaya bisa setara di level atas,” pungkasnya.
(Wikanto Arungbudoyo)