CERITA Pitha Haningtyas Mentari yang ikhlas dan terima kepergian Syabda Perkasa Belawa. Ya, kisah manis dan pahit pernah dirasakan pebulu tangkis Indonesia, Pitha Haningtyas Mentari. Tak hanya bicara soal bulu tangkis, pemain yang akrab disapa Tari itu juga mengalami fase naik turun dalam kehidupan kesehariannya.
Tari tentu saja sudah dikenal pencinta bulu tangkis Indonesia sebagai pemain ganda campuran Indonesia bersama Rinov Rivaldy. Sejumlah prestasi dan jatuh bangun di lapangan sudah menjadi bagian dalam karier Tari.
Namun, salah satu momen terpahit dalam kehidupan Tari dirasakan pada tahun lalu. Tepatnya pada Senin 20 Maret 2023, pemain kelahiran 1 Juli 1999 itu harus kehilangan kekasih hatinya, Syabda Perkasa Belawa, yang juga seorang pebulu tangkis tunggal putra di skuad utama pelatnas PBSI.
Tari yang saat itu hendak mengikuti ajang Swiss Open 2023 harus mendengar kabar buruk dari Tanah Air. Dari jauh, ia harus merelakan kepergian Syabda yang meninggal dunia usai mengalami kecelakaan mobil di Jalan Tol Pemalang-Batang.
Hati hancur pun sangat dirasakan Tari. Bahkan, ketika tampil di Swiss Open 2023 kala itu, Pitha tak bisa membendung rasa tangisnya di dalam lapangan.
Tak ada firasat atau perasaan buruk apa pun dalam benak Tari ketika ia berbicara tentang kepergian Syabda yang begitu tiba-tiba. Namun, ia teringat satu hal sebelum mendiang Syabda tiada, Tari seperti mendapat banyak tanda jika sang kekasih ingin pergi selama-selamanya.
“Kalau ditanya ada feeling atau enggak, enggak ada. Tapi kalau melihat chat dan kebiasaan kita, chat terakhir dia itu memang tiba-tiba berbeda,” kata Tari dalam wawancara eksklusif bersama MNC Portal Indonesia.
“Lalu, di hari sebelumnya juga, aku beli baju di Inggris dan kebetulan bajunya tuh memang serbahitam. Atasan hitam, outer hitam, rok juga hitam. Terus dia bilang, ‘Bagus bajunya, nanti dipakai waktu ketemuan sama aku ya.’ Terus aku bilang, ‘Ya, sabar ya tunggu aku pulang.’ Dia selalu bilang aku lama banget pulangnya,” kenangnya lagi.
Namun, siapa yang menyangka pada akhirnya Tari pulang ke Tanah Air dan menemui Syabda dalam suasana serbahitam. Pemain berusia 24 tahun itu pun teringat kembali, ketika terakhir kali ia bertemu secara tatap muka dengan mendiang adalah diantar ke bandara untuk berangkat ke Inggris.
Pada momen itu, Syabda begitu ngotot untuk mengantar Tari. Padahal, Syabda sendiri sedang dalam kondisi lelah usai berlatih keras.
“Sebelum dia meninggal, aku bersyukur dia nganterin aku ke bandara (sebelum berangkat ke All England), itu pertemuan terakhir tatap muka kita di bandara. Jadi sebelum berangkat dia bilang, ‘Sudah aku saja yang anterin,’ padahal aku bilang udah enggak usah karena tahu dia latihan hari itu capek banget, paginya sesi lari, sorenya latihan teknik. Tapi, dia bilang enggak, dia mau nganterin,” tutur Tari.
“Terus waktu itu sebetulnya pas dateng ke bandara kita datangnya itu memang enggak telat, tapi aku sudah dicariin. Jadi semua itu sudah datang, tapi ada beberapa orang yang belum datang termasuk aku. Tapi dia bilang, ‘Sudah enggak usah khawatir kamu enggak akan ditinggal pesawat.’ Itu dia enggak pernah kayak gitu. Ya, mungkin kita biar lebih lama (di pertemuan terakhir), tapi itu kan aku enggak tahu,” lanjutnya.
Pertanda lain pun banyak dirasakan Tari ketika mengingat kembali sikap dan kebiasaan Syabda setahun ke belakang. Begitu juga dengan kepergian ibunda Syabda yang juga ikut terlibat dalam kecelakaan itu. Sebelum kepergian itu, Tari juga sempat membelikan baju berwarna ungu untuk ibunda Syabda dan melakukan video call yang cukup lama.
Sebagai manusia, Tari tentu tidak bisa mengubah takdir. Ia selalu mengingat pesan sang Ayah bahwa dengan adanya Syabda ataupun tidak, hidup harus terus berjalan. Memang butuh perjuangan berat bagi Tari untuk menerima kepergian Syabda, termasuk ketika ia memiliki banyak kenangan bersama dengan mendiang di ruang makan asrama.
“Aku butuh waktu cukup lama untuk bisa makan di ruang makan asrama. Jadi kalau makan, aku minta tolong diantar ke kamar karena masih belum siap. Aku sama Syabda punya momen di mana kita mau makan, kita dibikinin jadi satu paket sama koki, khusus untuk Syabda dan Mentari. Jadi kita kalau makan, makannya bareng dan ada memori setiap makan itu. Jadi, kalau ke kantin cuma lewat doang,” terang Tari.
Setelah lebih dari setahun, Tari kini mulai bisa menerima kepergian Syabda. Ia mampu melanjutkan kehidupannya, termasuk kariernya di bulu tangkis. Bahkan dengan kebangkitan mentalnya, Tari kini menjadi salah satu pemain yang akan tampil di Olimpiade Paris 2024 bersama Rinov.
“Waktu yang menyembuhkan. Aku menyetujui kata-kata itu. Ada masa di mana semua omongan orang itu selalu aku anggap, ‘Lu enggak bisa ngerasain jadi gue.’ Tapi seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa memang yang harus dilakukan adalah menerima. Karena buat aku sulit untuk menerima bahwa kenyataannya dia memang udah enggak ada. Dia bukan enggak ada karena aku putus, tapi emang udah enggak akan bisa ketemu lagi,” ucap Tari.
“Sekarang sudah jauh lebih terima. Kalau sekarang aku ditanya, aku sudah ikhlas. Walaupun ikhlas itu tidak diucapkan, aku sudah sadar bahwa itu kuasa-Nya yang di Atas, bahkan sudah tertulis kita akan lahir seperti apa, meninggal kapan, itu sudah tertulis. Kita enggak bisa mengubah takdir kematian. Jadi itu yang bisa aku terima,” sambungnya.
“Sebelumnya, aku itu mempertanyakan kuasa-Nya yang di Atas. Iya kalau dia selamat, tapi enggak bisa apa-apa gimana? Karena cedera yang dia alami parah. Aku pikir memang sebaik-baiknya dia meninggal saat itu, memang sebaik-baiknya dia di mata Tuhan,” kata Tari dengan tetap tegar.
Akan tetapi, Tari juga tidak bisa menyangkal bahwa akan ada momen ia mengingat Syabda dalam hidupnya. Bahkan, ketika Tari menjuarai Spain Masters 2024, ia langsung terkenang almarhum. Sebab tiga tahun lalu, saat ia juga menjuarai Spain Masters 2021, ia memiliki kenangan manis bersama Syabda.
“Juara di Spain kemarin aku ingat dia, karena pas aku juara di Spain tahun 2021 itu aku punya kenangan sama dia. Intinya Spain I’m in Love hehe. Kayaknya Spanyol itu enggak banyak orang yang tahu bahwa Spanyol itu salah satu negara yang gue banget sama dia,” tutup Tari dengan senyuman.
(Djanti Virantika)