VALENTINO Rossi terus dikabarkan akan pensiun dari dunia balap MotoGP setelah musim 2021 berakhir. Legenda balap MotoGP, Giacomo Agostini, menyarankan kepada Rossi untuk segera berhenti dari arena sirkuit.
The Doctor—julukan Valentino Rossi—merupakan salah satu pembalap hebat pada masanya. Hanya saja, penampilannya pada musim ini tak kunjung impresif.
Rossi meraih titel juara dunia sebanyak sembilan kali. Tujuh di antaranya di kelas MotoGP, yakni 2001, 2002, 2003, 2004, 2005, 2008, dan 2009.
Baca juga: Valentino Rossi Mau Pensiun, Bagaimana MotoGP di Masa Depan?
Namun, kehebatannya dalam mengendari motor di kelas primer sudah menurun dalam beberapa tahun terakhir. Dia terakhir naik podium pada MotoGP Spanyol 2020 dengan menempati posisi ketiga, sementara di peringkat pertama, dia terakhir kali juara pada MotoGP Belanda 2017 silam.
Baca juga: Marc Marquez Berjaya Bareng RC213V, Jorge Lorenzo: Honda Tak Bisa Juara MotoGP Tanpanya
Meski sudah lama tak merasakan naik podium, Rossi belum juga memutuskan pensiun. Rumor pun terus menyebar yang menyebutkan sang legenda akan pensiun pada akhir musim MotoGP 2021.
Sementara pada MotoGP 2021 Rossi juga belum bertaji. Rossi yang kini memperkuat tim Yamaha Petronas SRT berada di urutan ke-19 klasemen dengan meraih 17 poin.
Baru-baru ini, Giacomo Agostini memberikan nasihat kepada juniornya tersebut. Juara dunia 15 kali itu disarankan untuk pensiun saja.
"Saya sangat sedikit percaya pada keajaiban. Saya sendiri, seperti banyak atlet lainnya, telah banyak belajar bahwa tidak ada yang bisa dilakukan melawan waktu kehidupan . Anda bisa cepat sebanyak yang Anda inginkan, tetapi waktu selalu berjalan lebih cepat dari Anda,” tuturnya kepada La Repubblica mengutip Marca, Jumat (2/7/2021).
“Ini adalah olahraga di level tertinggi. Pada usia tertentu, hanya beberapa petinju yang bisa terus melanjutkan, tetapi mereka adalah pejuang tua yang bertarung di antara mereka sendiri. Ini disebut pertunjukan, tetapi di dunia kecepatan, itu tidak bekerja.”
“Hanya anggur yang biasanya membaik seiring berjalannya waktu, tetapi terkadang, membiarkan terlalu banyak waktu justru mengubahnya menjadi cuka", pungkas Giacomo Agostini.
(Rachmat Fahzry)