TARGET prestasi secara tersirat dikemukakan Andi Mallarangeng demi mengembalikan supremasi Indonesia di ajang multievent SEA Games XXVI Jakarta-Palembang 2011 nanti. Tapi apa capaian tertinggi yang dibidik skuad olahragawan yang memasang emblem Garuda Merah Putih tidak secara tersurat disebut Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid (KIBJ) 2 itu.
Menpora dalam pertemuan dengan sejumlah awak pers semalam, Jumat (21/1/2011), di Griya Agung, Palembang, tidak tegas-tegas menyatakan Indonesia harus kembali menduduki posisi tampuk juara umum kancah pesta olahraga se-Asia Tenggara, yang dihelat pada November mendatang. Kecuali hanya mengatakan akan berstrategi mengurangi jumlah nomor yang dipertandingkan dalam satu cabang olahraga (cabor) tertentu sebagai kiat awal.
Disebutkan, pengurangan nomor pada cabor kemungkinan berpengaruh atas perolehan medali yang didulang kontingen Indonesia. Logikanya, apa mungkin memang sudah ada rumus perhitungan mutlak secara simulatif bahwa penambahan nomor pada cabor justru kontraproduktif, hingga perolehan medali akan jatuh dan berdampak terhadap tidak tercapainya target prestasi?
Okezone sempat bertanya tentang hal itu, namun Andi tidak menjawab tuntas pada poinnya. Ia cenderung mengelak, sedikit berkelit, melempar tanggung jawab secara berenteng kepada induk organisasi cabor para Pengurus Besar (PB), KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia), KOI (Komite Olahraga Indonesia), dan Satlak Prima (Satuan Pelaksana Prestasi Indonesia Emas). Lagi pula, katanya, finalisasi tentang nomor-nomor apa saja yang hendak dipertandingkan dalam SEAG XXVI tergantung pembahasan dalam pertemuan SEAG Council di Bali, akhir Januari ini.
Andi harus memahami posisi yang baru dijabatnya masa KIBJ 2 periode ke-2 kalinya Soesilo Bambang Yudhoyono menjabat Presiden RI ini. Bahwa olahraga, apapun cabang yang dimainkannya, merupakan salah satu potensi dasar demi menegakkan spirit nasionalisme dalam rupa yang paling asali: fanatisme.
Ceritanya, begini:
Di masa awal Olimpiade modern ala Yunani, seorang juara hanya dianugerahi mahkota daun yang membebat kepalanya sebagai tanda sang pemenang menjadi yang “citius-altius-fortius” di antara para petanding. Seorang prajurit bernama Marathon berlari hampir 45 kilometer dari Sparta ke Athena hanya untuk mengabarkan berita kemenangan penduduk sipil Sparta atas pasukan terlatih Romawi.
Semangat tentang penyematan mahkota daun kepada sang juara dan spirit kemenangan Marathon itulah yang kemudian abadi mengendap dalam kesadaran sportivitas, hingga orang menemukan arena yang steril dari politisasi dalam dunia olahraga. Lalu, mengapa kini di kawasan ASEAN, salah satu negara yang terbesar di dunia terletak di zamrud khatulistiwa, jadi terpuruk dunianya dalam kubangan persaingan tidak fair yang hanya memunculkan wajah buruk tanpa prestasi? Barangkali salah satu sebab paling serius: Lantaran ranah olahraganya – baik pengurus dan pemain serta pemerintahnya – sudah berlumur penuh dengan politisasi di luar batas sportivitas.
(Hendra Mujiraharja)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.