MASA depan pembalap McLaren, Oscar Piastri di Formula 1 (F1) kini menjadi pusat perhatian menyusul rumor ketertarikan Red Bull Racing terhadap bintang muda Australia tersebut. Piastri dikabarkan menjadi Rencana B bagi tim berlogo banteng merah itu andai sang juara dunia, Max Verstappen, memutuskan hengkang sebelum kontraknya berakhir pada 2028 akibat ketidakpuasan terhadap regulasi mesin terbaru.
Meski peluang menjadi pembalap utama di tim lain tampak menggiurkan, sejumlah pakar F1 justru memberikan peringatan keras kepada Piastri. Mereka menilai, meninggalkan McLaren yang saat ini merupakan tim papan atas demi status nomor satu di tempat lain bukanlah jaminan kebahagiaan maupun kesuksesan.
Mantan insinyur Ferrari, Rob Smedley, menekankan sejarah F1 telah membuktikan betapa sulitnya seorang pembalap untuk sukses setelah meninggalkan tim elite. Dalam podcast High Performance Racing, Smedley berkaca pada pengalamannya saat di Ferrari dan melihat banyak pembalap yang memilih pergi karena merasa kesulitan bersaing dengan rekan setimnya.
"Apakah Anda pergi ke tim yang lebih buruk yang sebenarnya tidak memiliki peluang memenangkan kejuaraan dunia, hanya agar Anda bisa menjadi pembalap yang lebih baik di tim tersebut? Saya telah melihat hal itu terjadi berkali-kali, dan saya tidak pernah melihatnya berakhir baik. Saya tidak pernah melihat pembalap tersebut menjadi lebih bahagia," tegas Smedley, dalam podcast High Performance Racing, yang dikutip dari Crash, Jumat (15/5/2026).
Piastri sendiri baru saja melewati musim yang sengit tahun lalu, di mana ia harus mengakui keunggulan rekan setimnya, Lando Norris, yang berhasil mengamankan gelar juara dunia pertamanya. Namun, Smedley menyarankan agar Piastri tetap bertahan dan berjuang di McLaren daripada mengambil risiko di tempat lain.
Senada dengan Smedley, mantan Kepala Tim Alpine, Otmar Szafnauer, juga memberikan analisisnya mengenai risiko kepindahan tersebut. Menurutnya, ada dua variabel sulit yang harus terpenuhi jika seorang pembalap pindah tim, pembalap tersebut harus menjadi nomor satu, dan tim barunya harus mampu berevolusi menjadi yang terbaik.
Szafnauer menyoroti bahwa dominasi sebuah tim di F1 biasanya berlangsung dalam periode yang sangat lama, seperti era Michael Schumacher di Ferrari, Mercedes, atau Red Bull saat ini.
"Jika Anda menjadi nomor dua di Ferrari selama 10 tahun dominasi mereka dan berkata, 'Saya ingin menjadi nomor satu di tempat lain,' maka selama sepuluh tahun itu, ke mana pun Anda pergi, tim tersebut bukan yang terbaik," jelas Szafnauer.
Bagi Piastri, tantangan terbesarnya adalah apakah ia cukup sabar untuk terus bersaing dengan Norris di McLaren atau memilih jalan berisiko menjadi suksesor Verstappen di Red Bull.
(Rivan Nasri Rachman)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.