BOLOGNA – Pembalap Tim Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia masih kesulitan menemukan performa terbaiknya di awal MotoGP 2026. Meski Ducati GP26 dibekali pembaruan pada stabilitas depan, rider yang akrab disapa Pecco itu justru terjerat dalam masalah klasik yang sempat disinggung sang mentor, Valentino Rossi, degradasi ban belakang yang ekstrem.
Pada MotoGP Amerika Serikat 2026, rapuhnya performa Bagnaia di fase akhir balapan terlihat jelas. Setelah sempat memimpin sprint Race di Circuit of the Americas (COTA), Austin, Amerika Serikat, ia justru dikalahkan Jorge Martin di lap terakhir.
Ironisnya, saat balapan utama hari Minggu, Pecco merosot dari posisi kelima ke posisi 10, bahkan sempat disalip Luca Marini dari sisi luar. Tentunya momen itu menjadi sebuah pemandangan yang jarang terjadi bagi seorang juara dunia dua kali.
Masalah utama Bagnaia bukan terletak pada kecepatan murni, melainkan pada bagaimana motor menyalurkan tenaga ke aspal. Bagnaia mendiagnosis GP26 terlalu bergantung pada ban belakang untuk membantu motor berbelok, sebuah kompensasi karena bagian depan motor cenderung mendorong saat memasuki tikungan.
"Konsumsi ban belakang yang sangat aneh. Saat ini saya rasa motor kami harus berbelok menggunakan ban belakang karena ban depan terus mendorong. Kami tidak bisa menghentikan motor dengan baik, sehingga kami memaksakan ban belakang untuk bekerja dan akhirnya menghancurkannya," ungkap Bagnaia, melansir dari Crash, Jumat (17/4/2026).
Situasi ini membuatnya tidak bisa menyerang dan hanya fokus pada cara untuk bertahan hingga garis finis. Bahkan saat ia mencoba membalap dengan konservatif, ban belakangnya tetap habis sebelum balapan usai, sebuah pola yang terus berulang sejak seri Thailand dan Brasil.
Pandangan Bagnaia ini rupanya diamini oleh penunggang GP26 lainnya, Fabio di Giannantonio (Pertamina Enduro VR46). Meski saat ini menjadi ujung tombak Ducati di klasemen, Diggia –sapaan akrab Di Giannantonio– mengakui bahwa keunggulan Ducati dalam mengontrol ban belakang kini mulai dikejar oleh pabrikan lain seperti Aprilia dan KTM.
Menurut Di Giannantonio, ketergantungan pada rear grip menjadi bumerang saat lawan-lawannya telah menemukan stabilitas luar biasa pada ban depan.
"Ban belakang kami sebenarnya sangat bagus, masalahnya adalah kami menggunakan ban belakang untuk melakukan segalanya. Kita perlu meningkatkan performa saat pengereman dan masuk tikungan. Saat berada di belakang Aprilia dan Pedro (Acosta), saya tidak bisa menghentikan motor seperti mereka," jelas Di Giannantonio.
Kini, menjelang seri pembuka Eropa di Sirkuit Jerez, Spanyol, Pecco terdampar di posisi kesembilan klasemen. Tantangan bagi kru Borgo Panigale sudah jelas, mereka harus menemukan keseimbangan baru agar GP26 tidak lagi memakan bannya sendiri sebelum bendera kotak-kotak dikibarkan.
(Rivan Nasri Rachman)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.