SAKHIR - Era baru Formula 1 (F1) tahun 2026 seharusnya menjadi angin segar, namun bagi Lewis Hamilton, kenyataan di lintasan mulai terasa pahit. Setelah sempat melontarkan pujian pada sesi shakedown tertutup di Barcelona, pembalap Tim Scuderia Ferrari ini langsung mengubah pendapatnya terhadap performa mobil generasi terbaru yang bakal dipakai di F1 2026.
Perubahan suhu dan kondisi angin di Bahrain tampaknya membuka mata Hamilton. Jika di Barcelona ia menyebut mobil ini menyenangkan, di Sakhir ia justru merasa mobilnya kehilangan taring.
Masalah utama yang disoroti adalah penurunan performa yang drastis akibat regulasi aerodinamika aktif dan manajemen energi yang baru. Hamilton tidak ragu membandingkan kecepatan jet darat teranyar ini dengan kasta di bawahnya (F2).
"Mobilnya lebih pendek, lebih ringan, dan sebenarnya lebih mudah dikendalikan. Rasanya cukup menyenangkan, mirip seperti reli. Tapi, saya rasa kita lebih lambat dari GP2 [F2] sekarang, bukan? Setidaknya itu yang saya rasakan," ungkap Hamilton, mengutip dari Crash, Jumat (13/2/2026).
Keresahan Hamilton juga menyasar pada efisiensi energi yang dianggapnya merusak esensi balapan. Di Barcelona saja, ia mengaku harus melakukan teknik melepas pedal gas sebelum tikungan sejauh 600 meter bahkan saat lap kualifikasi.
Selain masalah kecepatan, Hamilton mengkhawatirkan aspek teknis regulasi 2026 yang dianggapnya terlalu rumit untuk dicerna oleh penonton awam. Sistem aerodinamika aktif dan algoritma mesin yang mampu mempelajari gaya mengemudi dinilainya sebagai beban tambahan yang tidak perlu.
Pembalap berusia 41 tahun itu menyebut memahami sistem baru ini terasa seperti harus menempuh pendidikan formal kembali.
"Tidak akan ada penggemar yang memahaminya. Ini sangat rumit, luar biasa rumit. Saya duduk di sebuah rapat tempo hari dan mereka menjelaskan semuanya... rasanya Anda butuh gelar sarjana untuk bisa benar-benar mengerti," imbuh Hamilton.
Meskipun Hamilton mengakui pengoperasian sistem tersebut saat mengemudi relatif lugas, ia tetap skeptis terhadap bagaimana algoritma mobil akan bereaksi jika pembalap melakukan kesalahan kecil di lintasan, seperti terkunci ban yang bisa mengacaukan perhitungan sistem otomatis tersebut.
(Rivan Nasri Rachman)