Peraih Medali Emas Olimpiade Sydney 2000 Tony Gunawan: Tetap Cinta Indonesia meski Sudah Pindah Warga Negara

Andhika Khoirul Huda, Jurnalis · Selasa 10 Agustus 2021 16:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 10 40 2453762 peraih-medali-emas-olimpiade-sydney-2000-tony-gunawan-tetap-cinta-indonesia-meski-sudah-pindah-warga-negara-AYscByquAs.jpg Tony Gunawan legenda bulu tangkis Indonesia yang meraih medali emas Olimpiade Sydney 2000 (Foto: Instagram/@t_gun75)

OLIMPIADE Tokyo 2020 telah berakhir pada Minggu 8 Agustus 2021. Meski begitu, nuansa Olimpiade masih terasa hingga sekarang. Mari bahas salah satu pahlawan Indonesia di gelaran Olimpiade, yaitu legenda bulu tangkis Tanah Air, Tony Gunawan.

Tony meraih emas di Olimpiade Sydney 2000 bersama pasangannya di sektor ganda putra, Candra Wijaya. Dalam salah satu wawancara dengan Badminton Unlimited di akun Youtube BWF, Tony menceritakan perjalanan kariernya.

Candra Wijaya/Tony Gunawan peraih medali emas Olimpiade Sydney 2000 (Foto: Istimewa)

Tony mengenal bulu tangkis lewat orangtuanya sejak usia lima tahun. Dia pertama kali masuk ke klub bulu tangkis pada usia enam tahun.

Tony ingat salah satu momen yang membuatnya berlatih keras saat kecil. Ketika itu umurnya sekitar tujuh atau delapan tahun, dia sedang mengikuti sebuah turnamen dan ada seorang penonton yang mengatakan, bahwa dia terlalu gemuk dan tidak cocok bermain bulu tangkis.

“Bagaimana kamu bisa bermain? Kamu terlalu gemuk,” kata Tony sambil tersenyum mengingat kejadian itu.

Sontak kejadian itu membuatnya bersemangat untuk berlatih lebih keras demi menurunkan berat badannya. Tony pun menjadi lebih kurus setelah beberapa waktu dan dia lebih serius menekuni bulu tangkis.

Pria asal Surabaya, Jawa Timur, itu mengatakan dirinya pernah ingin berhenti bermain bulut angkis karena sang ayah melatihnya dengan sangat keras dan dia merasa terpaksa. Saat itu, usianya 14 tahun, dia berlatih mulai pukul lima pagi, lalu sekolah pukul tujuh sampai satu siang. Setelah itu, dia berlatih lagi sampai pukul lima sore, istirahat sebentar, dan mulai lagi pukul tujuh sampai sembilan malam.

BACA JUGA: Karena Pandemi Covid-19, Olimpiade Tokyo 2020 Paling Banyak Ditonton secara Streaming

Namun, latihan keras itu membuahkan hasil yang sebanding. Dia direkrut oleh salah satu tim raksasa asal Jakarta, Jaya Raya. Saat main di nomor tunggal, Ibu Minarni dari Jaya Raya melihatnya dan menyarankan dia untuk main di nomor ganda karena dirasa lebih cocok. Akhirnya, dia beralih menjadi ke nomor ganda dan berpasangan dengan Namrih Suroto di Jaya Raya.

Pria berusia 46 tahun itu merupakan salah satu pebulu tangkis ganda putra terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Dia meraih banyak gelar dengan banyak pasangan.

Pasangan terbaik Tony adalah Candra Wijaya. Mereka meraih banyak gelar dan pernah menduduki peringkat satu dunia di nomor ganda putra. Puncaknya, mereka menyabet medali emas Olimpiade Sydney 2000.

Legenda, yang lahir pada 9 april 1975 itu, juga pernah berpasangan dengan Halim Haryanto. Pasangan ini menjuarai berbagai turnamen, seperti Brunei Terbuka 1998, Malaysia Terbuka 1998, Singapore Terbuka 2001, All England 2001, Kejuaraan Dunia 2001, German Terbuka 2005, dan Amerika Terbuka 2006. Selain Candra dan Halim, Tony juga pernah berduet dengan Victo Wibowo, Bob Malaythong, dan Howard Bach.

Pada 2002, Tony hijrah ke Amerika Serikat (AS) dan menjadi pemain sekaligus pelatih di Orange County Badminton Club karena tidak ada Tim Nasional (Timnas) Bulu Tangkis Amerika Serikat. Akan tetapi, pemain-pemain hebat berlatih di klub itu.

Tony Gunawan peraih medali emas Olimpiade Sydney 2000 (Foto: Reuters)

Dia beralasan bahwa cita-citanya menjadi sarjana membuatnya pergi ke Negeri Paman Sam. Dia rela pergi jauh karena ingin gelar itu diraih dari universitas bergengsi.

Tony menempuh pendidikan teknik komputer di Devry University di Pamona, California. Akan tetapi, kesibukan menjadi pelatih dan pemain membuatnya kehabisan waktu dan tidak bisa menyelesaikan pendidikannya. Dia dikeluarkan oleh pihak universitas pada 2006.

Pada 2004, Tony diminta pihak klub untuk mengikuti Kejuaraan Dunia 2005. Tony berpasangan dengan Howard Bach. Bersama Bach, dia menjadi juara dunia setelah mengalahkan pasangan Indonesia, Candra Wijaya/Sigit Budiarto, di partai puncak.

Tony tidak pernah menyangka akan menjadi juara dengan Amerika Serikat dipunggungnya. Menurutnya, saat itu banyak orang mengatakan kariernya sudah selesai, dia sangat senang karena menjadi juara dunia dan membuktikan dirinya belum habis.

Meski telah lama tinggal di Negeri Paman Sam, Tony baru menjadi warga negara AS pada 2011. Pada tahun itu, dia menjuarai Pan America Games berpasangan dengan Howard Bach dan lolos ke Olimpiade London 2012.

Setelah itu, dia memutuskan untuk pensiun dan fokus menjadi pelatih di AS. Dia mengalami kesulitan saat awal-awal menjadi pelatih. Akan tetapi, bulu tangkis sudah ada dalam darahnya sehingga dia bisa menyesuaikan diri.

“Sedikit sulit pada awalnya, tetapi saya pikir bulu tangkis ada di dalam darah saya dan saya berusaha menyesuaikan perlahan-perlahan dan saya menyukainya,” kata Tony.

Dia mengatakan berusaha untuk menerapkan apa yang dilakukan sebagai pemain dulu ke anak asuhnya sekarang. Dia merasakan kepuasan tersendiri ketika menerjemahkan permainannya menjadi instruksi untuk par anak-anak asuhnya.

Tony berharap bisa lebih mempopulerkan bulu tangkis di Amerika Serikat. Pada awal kedatangannya, hanya ada 80 atlet nasional dari kelompok usia U-11 sampai U-19.

Sekarang, sudah ada ribuan atlet yang bertanding di kejuaraan nasional. Tony hanya berharap remaja-remaja yang bermain bulutangkis mendapat dukungan dari lingkungannya dan bisa membuktikan sejauh mana mereka bisa berkarir.

Tony mengatakan tidak pernah mengkhianati Indonesia. Dia mengganti kewarganegaraannya karena urusan anak, pajak, dan lain-lain.

Dia masih mencintai Indonesia dan rindu dengan tanah kelahirannya itu. Sampai kapan pun Tony adalah salah satu atlet Tanah Air yang mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional melalui bulu tangkis.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini