Sebelumnya, Chef de Mission (CdM) Indonesia, Rosan P Roeslani, juga mengaku memetik pembelajaran dari pelaksanaan Olimpiade Tokyo. Menurutnya, Indonesia bisa melakukan itu juga, seperti dalam pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua yang dijadwalkan Oktober mendatang.
Menurut Rosan, salah satu kunci Olimpiade Tokyo 2020 bisa terlaksana dengan lancar, yaitu adanya peraturan dan prokes yang jelas dan ketat selama penyelenggaraan.

“Banyak sekali yang dapat menjadi pelajaran dari event sebesar ini karena di sana yang pertama kali disampaikan bahwa tidak ada toleransi untuk pelanggaran-pelanggaran dan semua itu dilakukan secara efisien dan peraturan yang jelas,” kata Rosan dalam jumpa pers virtual di Jakarta, Jumat lalu.
Rosan mencontohkan sebelum berangkat ke Jepang, seluruh atlet, ofisial dan pelatih harus terlebih dahulu melaporkan rencana kegiatan mereka selama di Tokyo. Dengan demikian, mereka hanya diperbolehkan keluar beraktivitas sesuai dengan jadwal yang telah dilaporkan dalam rencana kegiatan tersebut.
Selain itu, seluruh atlet juga harus menjalani karantina dua pekan di Tanah Air dengan satu pekan terakhir mesti menjalani tes usap PCR setiap harinya. Hasil tes tersebut juga harus dilaporkan ke pemerintah Jepang.
"Ketika tiba di Kampung Atlet harus tes PCR dan uji saliva itu selama tujuh hari berturut-turut. Apabila ada yang positif, langsung dikarantina. Protokol itu sangat jelas,” tuturnya.
(Andika Pratama)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.