TOKYO - Sunisa Lee berhasil meraih medali emas untuk Amerika Serikat di Olimpiade Tokyo 2020. DI balik kesuksesannya, ada cerita yang sangat memotivasi. Dia adalah anak dari orang tua yang mengungsi dari Laos.
Hal pertama yang dilakukan pesenam artistik Amerika Serikat, Sunisa Lee, setelah mendapatkan medali emasnya di lehernya dan mendengar lagu kebangsaan AS dimainkan adalah menelepon keluarganya dan menangis bersama mereka dalam kegembiraan. Pada akhirnya, mimpi sang atlet muda itu terpenuhi.

Orang tuanya merupakan pengungsi etnis Hmong dari Laos. Keduanya telah mendukung Lee sejak dia mengawali kariernya.
Keberhasilannya dari waktu ke waktu dalam olahraga senam tersebut memunculkan harapan di antara komunitas Hmong-Amerika. Mereka percaya Lee dapat mewakili mereka dan membawakan medali Olimpiade pertama dari komunitas etnis itu.
Baca juga: Sejarah Olimpiade, Kisah Atlet Yunani di Masa Lalu yang Telanjang saat Pertandingan Atletik
Akan tetapi, perjuangan gadis berusia 18 tahun itu tidak berjalan mulus. Keluarga Lee dilanda musibah menjelang Olimpiade. Beberapa hari sebelum debut Lee di tim senior AS pada 2019, ayahnya jatuh dari tangga dan lumpuh dari bagian dada hingga ke bawah.
Musibah tidak hanya berhenti di situ. Tahun lalu, Covid-19 merenggut nyawa bibi dan pamannya. Kedua sosok tersebut adalah orang yang baik terhadap Lee dan sering membuatkan teh herbal serta tak lupa memijatnya ketika dia lelah.
Tak lama setelah itu, Lee mengalami cedera kaki. Beban mental yang begitu berat setelah mengalami musibah bertubi-tubi membuatnya bertanya, apakah dia harus berhenti sampai di sini?
"Kami semua hanya menangis di telepon. Itu adalah momen yang sangat nyata dan saya sangat senang," kata Lee, anggota termuda dari tim senam wanita AS.
"Orang tua saya adalah orang yang paling luar biasa dalam hidup saya. Saya sangat mencintai mereka. Saya seperti bermimpi dan kami semua mulai menangis," katanya dilansir dari Reuters Kamis (29/7/2021).