Kisah Menyentuh Yusra Mardini, Atlet Pengungsi di Olimpiade Tokyo 2020 yang Berenang dari Suriah ke Jerman untuk Selamatkan Diri

Sri Lestari Rahayuningtyas, Jurnalis · Rabu 21 Juli 2021 15:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 21 43 2443820 kisah-menyentuh-yusra-mardini-atlet-pengungsi-di-olimpiade-tokyo-2020-yang-berenang-dari-suriah-ke-jerman-untuk-selamatkan-diri-G0TRRUCbyS.jpg Yusra Mardini tampil di Olimpiade Tokyo 2020. (Foto: Instagram/@yusramardini)

TOKYO – Kehadiran sosok perenang asal Suriah, Yusra Mardini, menjadi sorotan di Olimpiade Tokyo 2020. Sebab, untuk akhirnya bisa merebut tiket mentas Olimpiade Tokyo 2020, Yusra Mardini harus melewati perjuangan besar yang sangat menyentuh hati.

Ya, kisah menyentuh datang dari kehidupan Yusra Mardini yang berjalan sangat luar biasa. Perjuangan besar harus dilalui Yusra Mardini yang terselamatkan lewat berenang saat hijrah ke Jerman.

Yusra Mardini

Mardini melarikan diri dari negara kelahirannya setelah kehidupannya terancam akibat perang yang melanda Suriah. Saat ini, Mardini tercatat sebagai salah satu dalam daftar atlet pengungsi di Olimpiade Tokyo 2020.

BACA JUGA: Ketua Panpel Sebut Olimpiade Tokyo 2020 Bisa Dibatalkan, Ini Alasannya

Olimpiade Tokyo 2020 bukan pertama kalinya Yusra Mardini mentas di event olahraga multievent paling bergengsi di dunia itu. Sebelumnya, dia sudah pernah tampil di Olimpiade pada 2016. Posisinya pun sama, dia hadir sebagai atlet pengungsi.

BACA JUGA: Bukan Sepakbola, Sofbol Jadi Cabor Pertama yang Diselenggarakan di Olimpiade Tokyo 2020

Meski begitu, dia tidak merasa berkecil hati dengan julukan sebagai pengungsi dari Suriah yang kini tinggal di Jerman. Mardini justru merasa sangat bangga karena lewat berenang, dirinya berhasil selamat dari konflik berkepanjangan di Suriah.

“Berenang benar-benar menyelamatkan hidup saya dalam perjalanan ke Jerman dengan melarikan diri dari Suriah. Dan ketika sampai, berenang membantu saya membangun kembali hidup saya dari nol," kata Mardini, mengutip dari Sky News, Rabu (21/7/2021).

"Perjalanan yang sulit, ilegal, orang-orang masih melakukannya dan sekarat di jalan,” lanjut Mardini.

Saat melarikan diri, Mardini harus berenang lewat lautan Mediterania dari Suriah menuju Jerman. Hal itu terpaksa dia lakukan karena perahu yang ditumpanginya untuk melarikan diri mengalami kebocoran. Bahkan sambil berenang, dia rela sambil menarik perahu bocor selama 3,5 jam.

Seiring berjalannya waktu, Mardini akhirnya merasa tidak suka dengan cemooh status pengungsi. Dia menganggap bahwa para pengungsi membutuhkan perlindungan, seperti halnya tempat yang aman. Baginya kini, bisa tampil di Olimpiade merupakan kesuksesan tersendiri sebagai atlet pengungsi.

Yusra Mardini

"Cara saya dibesarkan di Suriah, lalu menjadi pengungsi adalah hal yang buruk. Saya tidak suka kata-kata itu. Tapi kemudian, saya berpikiran seperti pengungsi berarti orang yang mencari perlindungan, tempat di mana mereka ingin tetap aman dan tidak ada yang salah dengan itu,” jelas perenang berusia 23 tahun tersebut.

"Melarikan diri dari negara Anda secara paksa adalah untuk menemukan tempat aman, memiliki masa depan yang lebih baik dan memikirkan anak-anak Anda sekarang. Bahkan untuk berpikir tentang membangun keluarga yang bahagia, rumah kecil dengan taman. Tidak ada yang salah dengan itu,” sambung Mardini.

Di gelaran Olimpiade Tokyo 2020, Mardini akan mentas di nomor pertandingan 100 meter gaya kupu-kupu. Hal ini sama seperti penampilannya pada Olimpiade 2016. Pada edisi sebelumnya, Mardini langsung terhenti di babak penyisihan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini