IOC Tegaskan Vaksin Covid-19 Tak Wajib untuk Atlet di Olimpiade Tokyo 2020

Antara, Jurnalis · Minggu 14 Maret 2021 01:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 13 43 2377348 ioc-tegaskan-vaksin-covid-19-tak-wajib-untuk-atlet-di-olimpiade-tokyo-2020-KDTcDThN5L.jpg Olimpiade Tokyo 2020. (Foto: Reuters)

PRESIDEN Komite Olimpiade Internasional (IOC), Thomas Bach, menyatakan kembali bahwa vaksin virus Covid-19 tidak akan menjadi syarat bagi para atlet yang akan berkompetisi di Olimpiade Tokyo 2020. Pernyataan ini kembaki disampaikan karena munculnya kekhawatiran soal lambatnya peluncuran vaksin di Jepang.

Jika negara tuan rumah Olimpiade itu mengalami penundaan dalam mendapat vaksin, maka ada kemungkinan beberapa atlet Jepang tidak mendapat vaksinasi sebelum ajang bergengsi tersebut dimulai pada 23 Juli.

Olimpiade Tokyo 2020

Bach mengatakan IOC telah menjelaskan sejak awal bahwa mereka tidak akan memberlakukan kewajiban untuk vaksinasi dan akan mengikuti pedoman pemerintah mengenai masalah tersebut.

"Para atlet dan panitia Olimpiade nasional harus mengikuti peraturan nasional tentang vaksinasi. Ini jelas tanggung jawab pemerintah, dan dalam hal itu, kami tidak akan ikut campur," kata Bach, dikutip kantor berita Kyodo.

"Kami akan bekerja dengan NOC untuk mendapatkan sebanyak mungkin peserta yang divaksinasi, tetapi selalu mengikuti pedoman nasional yang relevan," ujar Bach.

BACA JUGA: Jelang Olimpiade Tokyo 2020, Atlet AS Akan Mulai Divaksin

Jepang akan menerima sekira 100 juta dosis vaksin COVID-19 dari Pfizer pada Mei dan Juni, yang dinilai cukup untuk hampir setengah dari populasinya, menurut pemerintah Jepang.

Sebelumnya, Bach mengungkapkan Komite Olimpiade China telah menawarkan untuk memberikan dosis vaksin bagi para atlet di Olimpiade Tokyo, yang telah ditunda setahun karena pandemi virus corona, serta Olimpiade Musim Dingin Beijing tahun depan.

BACA JUGA: Agar Gelaran Olimpiade Lebih Menarik, IOC Sepakat Paket Reformasi

IOC dan empat badan penyelenggara lainnya telah sepakat untuk membuat keputusan tentang kehadiran penonton dalam pertandingan pada akhir bulan ini, tetapi pemerintah Jepang memutuskan untuk membuat pengecualian bagi penonton dari luar negeri, menurut pejabat yang mengetahui masalah tersebut.

Sementara itu, berkaitan dengan isu hak asasi manusia di China yang diajukan oleh para aktivis dan beberapa negara lain menjelang pertandingan 2022, Bach mengatakan IOC "menanggapi itu dengan sangat serius," namun tidak berkomentar lebih jauh.

"Kami bukan pemerintah dunia yang super, yang dapat memecahkan atau menangani masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan badan internasional lainnya," ungkap Bach.

Pada sesi daringnya, IOC juga dengan suara bulat menyetujui paket berisi 15 rekomendasi yang akan memandu pengambilan keputusan dalam empat tahun terakhir Bach menjabat sebagai kepala organisasi tersebut.

Di antara rekomendasi itu, IOC menyatakan akan berusaha untuk "mendorong perkembangan olahraga virtual dan lebih jauh terlibat dengan komunitas video game."

Selain itu, IOC juga bertekad untuk "mendorong Olimpiade yang berkelanjutan" dan terus mempromosikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini