Presiden Komite Olimpiade Tokyo 2020 Seksis, 1.000 Sukarelawan Mundur

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Kamis 25 Februari 2021 23:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 25 43 2368488 presiden-komite-olimpiade-tokyo-2020-seksis-1-000-sukarelawan-mundur-ilt8OYrTvY.jpg Yoshiro Mori. (Foto/Reuters)

TOKYO - Sekitar 1.000 sukarelawan Olimpiade telah mengundurkan diri selama satu bulan terakhir menyusul pernyataan kontroversial mantan Presiden Komite Penyelenggara Yoshiro Mori yang berujung pada pengunduran dirinya dari jabatan tersebut.

Relawan yang bertugas, mulai dari pembimbing, penerjemah, hingga pengantar pengunjung ramai-ramai mengundurkan diri. Penurunan jumlah relawan bisa menjadi kendala anyar pada pelaksanaan Olimpiade Tokyo 2020, demikian laporan Reuters, Kamis (25/2/2021).

Foto/Twitter

Kendati begitu, penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020 mengatakan tidak semua relawan yang mengundurkan diri baru-baru ini karena terpengaruh komentar Mori. Jajak pendapat menunjukkan sukarelawan berulang kali mengungkapkan keprihatinannya tentang virus corona.

Baca juga: Seiko Hashimoto Siap Gantikan Presiden Olimpiade Tokyo 2020 yang Seksis

Jumlah total relawan yang direkrut pada Tokyo 2020 mencapai 80.000 orang dan penyelenggara menjamin pelaksanaan Olimpiade tidak akan terpengaruh, karena jumlah relawan yang berhenti hanya sekitar satu persen dari total keseluruhan relawan yang sudah terdaftar.

Baca juga: Ketua Olimpiade Tokyo Resmi Mengundurkan Diri

Sebanyak 30.000 sukarelawan lainnya telah direkrut secara terpisah oleh Pemerintah Metropolitan Tokyo. Namun mereka belum bisa dimintai komentarnya terkait jumlah relawan yang telah mundur.

Selain itu, penundaan Olimpiade juga mempengaruhi jumlah relawan tertentu. Sebelumnya, mereka berada dalam posisi siap membantu pada tahun lalu, namun tidak bisa menyalurkan tenaganya pada pelaksanaan tahun ini.

Alasannya beragam, mulai dari perubahan jadwal pekerjaan tetap mereka, perubahan gaya hidup, hingga urusan keluarga seperti merawat anak kecil.

Olimpiade tahun ini akan berlangsung dari 23 Juli hingga 8 Agustus.

Mori—yang berusia 83 tahun—mengatakan bahwa "perempuan terlalu banyak bicara".

Foto/Reuters

"Perempuan punya rasa persaingan yang kuat. Jika satu orang mengangkat tangan untuk bicara, yang lain merasa harus pula ikut bicara. [Akhirnya] semuanya merasa perlu untuk bicara," kata Mori, seperti dikutip media di Jepang.

Mori juga dikutip mengatakan, "Jika kita ingin menambah direktur perempuan, kita harus memastikan ada pembatasan lamanya mereka berbicara, mereka sulit berhenti, suatu hal yang menjengkelkan."

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini