ADU balap motor kelas 500cc berlangsung sejak 1949 hingga 2001. Pada 2002, ada perubahan regulasi motor, terutama kapasitas mesin. Seperti labelnya 500cc, awalnya motor semua pembalap menggunakan mesin dengan kapasitas seperti itu.
Namun per 2002, terdapat perubahan. Kapasitas mesin dinaikkan dari yang awalnya 500cc menjadi 990cc. Alhasil, nama kejuaraan pun berubah dari 500cc ke MotoGP. Hampir semua pembalap mengaku kesulitan dengan perubahan kapasitas mesin tersebut.
Akan tetapi, Valentino Rossi terlihat seperti tak memiliki masalah. Dari 16 race yang dilewati, Rossi memenangi 11 balapan di antaranya. Bahkan dari 16 balapan tersebut, hanya satu kali Rossi gagal finis di posisi podium.
BACA JUGA: Rossi: Yamaha Tech 3 Kebingungan Cari Pengganti Folger
Alhasil di akhir kompetisi, Rossi menutup musim dengan koleksi 355 angka. Ia unggul 140 poin dari Max Biaggi di posisi dua. Bahkan di musim tersebut, Rossi sempat tujuh kali memenangi race secara beruntun, tepatnya pada seri ketiga hingga sembilan.
Saat itu, tujuh kemenangan beruntun Rossi dicetak di GP Spanyol, Prancis, Italia, Catalunya, Belanda, Inggris dan Jerman. Melihat catatan itu, bisa dibilang Rossi tak kesulitan beradaptasi dengan perubahan regulasi mesin yang diterapkan.
BACA JUGA: Rossi Sayangkan Keputusan Folger Mundur dari MotoGP 2018
Bahkan di MotoGP 2003, penampilan Rossi jauh lebih matang. Ia selalu naik podium dari 16 race yang dilewati. Alhasil, pembalap berpaspor Italia itu kembali keluar sebagai juara dunia setelah mengoleksi 357 angka.
Pesaing utama Rossi saat itu ialah Sete Gibernau. Pembalap berpaspor Spanyol itu finis di posisi dua dengan raihan 277 poin.
(Ramdani Bur)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.