“Jika mobil (penabrak) menghormati peraturan batas kecepatan untuk bereaksi dan mengerem, dan terus melaju dengan kecepatan konstan, maka kecelakaan tersebut sepenuhnya akan dapat benar-benar dihindari,” jelas Omicini, menyadur dari Marca, Rabu (20/12/2017).
Kendati begitu, Hayden juga bukan tanpa salah sama sekali. Pasalnya, pria berkebangsaan Amerika Serikat itu juga tidak mengindahkan rambu lalu lintas untuk berhenti. Lebih lanjutnya, bukti-bukti kecelakaan Hayden akan diteruskan kepada hakim dan keputusan juga ada di tangan hakim tersebut apakah bukti yang ada sudah cukup untuk membawa si penabrak ke pengadilan.
Sementara itu, pada tuntutan sebelumnya, pengacara pihak penabrak, Pierluigi Autunno, mengakui bahwa kliennya mengalami trauma yang cukup berat atas kecelakaan tersebut dan benar-benar menyesali apa yang telah terjadi. Bahkan, Autunno membeberkan bahwa kliennya harus menjalani perawatan psikologis guna mengembalikan kondisinya seperti semula lagi.
Meninggalnya Hayden pun sempat menjadi sorotan dunia. Bahkan, setelah dimakamkan, masih banyak orang-orang yang mendatangi makam Hayden guna memberikan penghormatan. Mereka tidak hanya datang dari kalangan masyarakat umum saja, namun juga para pembalap kelas dunia, semisal Valentino Rossi dan Marc Marquez.
(Ramdani Bur)