AMBISI Minarni Soedaryanto untuk merebut Piala Uber saat itu tak pernah berhenti. Memutuskan pensiun pada 1971, namun ia memutuskan kembali memperkuat tim Uber Indonesia pada 1975. Saat itu ia sudah berusia 35 tahun. Namun, tak disangka justru posisinya menjadi vital sebagai pemain senior di tim Uber saat itu.
Tak sia-sia, mimpi itu pun menjadi kenyataan. Dirinya turun di nomor ganda bersama Regina Masli dan menjadi penentu kemenangan Indonesia saat itu untuk merebut Piala Uber pertama kalinya yang diadakan di Istora Senayan, Jakarta pada 1975.
Sebelum pensiun, status Minarni adalah pemain tunggal dengan menyandang sebagai pemain terbaik di Indonesia saat itu. Masuknya Minarni ke dalam tim inti pun sempat menjadi pertanyaan bagi kalangan bulutangkis maupun masyarakat umum.
Namun, Minarni membuktikan comeback-nya ke lapangan bulutangkis justru menjadi prestasi yang luar biasa bagi Indonesia. Kehadiran Minarni sebagai pemain senior, berperan penting bagi junior-nya, seperti Taty Sumirah, Theresia Widiastuty dan Imelda Wiguna untuk memberi motivasi lebih dan pengalamannya.
Pada final tersebut disaksikan ribuan penonton yang memadati Istora, berbeda dengan Piala Thomas yang memainkan sembilan partai dalam dua hari, Uber memainkan tujuh partai dalam satu hari. Partai yang dipertandingkan yakni tiga tunggal dan empat ganda.
Saat itu, Indonesia tertinggal terlebih dahulu dari Jepang 1-2 lewat tiga partai tunggal yang dimainkan. Pebulu tangkis Jepang yang juga juara All England 1975, Hiroe Yuki berhasil mengatasi perlawanan Theresia 7-11 dan 7-11. Taty Sumirah menjadikan skor imbang 1-1, namun Utami Dewi yang diharapkan merebut poin justru takluk dari pemain Jepang, Noriko Nakayama 5-11 dan 3-11.
Ketinggalan 1-2 membuat Indonesia kemudian menunjukkan kegarangannya di nomor ganda. Lewat pasangan Minarni/Regina Indonesia berhasil menyamakan kedudukan diikuti Theresia/Imelda yang membalikkan keadaan Indonesia menjadi unggul 3-2. Indonesia akhirnya memastikan kemenangan setelah Minarni/Regina menundukkan Yuki/Mika Ikeda 15-8, 15-11. Pada partai yang tidak menentukan Indonesia kembali mendominasi nomor ganda putri dengan mengalahkan Etsuko Takenaka/Maichiko Aizawa 17-14 dan 15-0.
Kemenangan Indonesia sebenarnya tak terlalu mengejutkan sebab pada Asian Games 1974 Indonesia berhasil menundukkan Jepang pada semifinal beregu putri. Meski akhirnya saat itu Indonesia kalah dari China di final.
(Fetra Hariandja)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.