Share

Awal Kisah Cinta Jonatan Christie pada Bulutangkis

Rintani Mundari, Jurnalis · Jum'at 05 Juni 2015 18:22 WIB
https: img.okezone.com content 2015 06 05 43 1160806 awal-kisah-cinta-jonatan-christie-pada-bulutangkis-4g2u0vk2AV.jpg Jonatan Christie. (Foto: Heru Haryono)

JAKARTA – Dibutuhkan perjuangan ekstra untuk menciptakan generasi emas. Hal inilah yang dialami Marlanti Djaja atau yang akrab disapa Dewi, ibunda Jonatan Christie -pebulutangkis yang namanya tengah menjadi perbincangan dan dielu-elukan kaum perempuan.

Kecintaan Jo terhadap badminton sejak ia masih berusia enam tahun. Akan tetapi, rasa cinta Jo kecil tak datang begitu saja. Sang ayah, Andreas Adi Siswa yang memperkenalkannya dengan olahraga yang begitu populer di Indonesia.

“Jo mulai menyukai badminton sejak usia enam tahun. pagi-pagi sekali dia berlatih. Papanya yang memperkenalkan Jo dengan badminton. Saat itu papanya bertekad, kalau mempunyai anak harus menjadi atlet. Sebenarnya, Jo tidak hanya fokus badminton, sempat juga bermain basket dan sepakbola. Namun untuk yg kedua, jujur tante melarang,” tutur Dewi, saat berbincang dengan Okezone belum lama ini.

“Papanya Jo sangat tegas dan disiplin, tak jarang Jo menangis karena namanya anak-anak ada masa bosan. Saat itu papanya mengatakan ‘Apabila kamu ingin menjadi atlet berprestasi, maka kamu harus berlatih keras dan itu dilakukan sekarang. Ini bukan untuk papa atau mama, tetapi untuk masa depan kamu.’ Begitu kata papanya,” kenangnya.

Perjuangan berat yang dilakukan Dewi dan suami pun membuahkan hasil. Jonatan, pemuda kelahiran Jakarta, 15 September 1997 itu mulai mendunia. Namanya bahkan berhasil masuk dalam skuad Merah-Putih yang berlaga di ajang Sudirman Cup 2015 di Dongguan-China.

Jo kemudian terjun di gelaran bergengsi Badminton Indonesian Open Super Series Premier (BIOSSP) 2015. Bintang masa depan Indonesia di sektor tunggal putra itu mengawali langkah di babak kualifikasi dan terus membuat kejutan dengan menumbangkan para pemain unggulan, sebut saja unggulan pertama asal Thailand, Boonsak Ponsana, juara French Open 2014, Chou Tien Chen, dan pemain veteran Korea Selatan, Lee Hyun Ill.

Sayang, langkah Jo terhenti di fase perempatfinal. Pemuda berusia 17 tahun itu harus mengakui kehebatan sang juara bertahan, Jan O Jorgensen lewat straight set 13-21 dan 15-21.

“Dibutuhkan perjuangan besar untuk mendidik Jo hingga bisa menjadi seperti sekarang ini. Lelah saya rasa, tetapi demi kemajuan dan kesuksesan anak, saya akan lakukan apa pun yang terbaik. Ujian dan cobaan juga kerap ditemukan, tetapi semuanya hilang ketika saya kembalikan ke niat awal,” sambungnya.

Dewi kemudian berpesan untuk seluruh kaum ibu di Indonesia yang memiliki perjalanan hidup yang sama sepertinya. Kerja keras, Doa, dan kesabaran merupakan kunci dari keberhasilan orangtua dalam mendidik anaknya.

“Jangan pernah putus berdoa untuk anak, itu yang nomor satu. Beri perhatian ekstra, baik makanan, gizi, vitamin, dan segala yang dibutuhkan anak. Perhatikan juga lingkungan, bukan hanya di asrama. Ini pesan saya untuk orangtua yang ingin anaknya sukses dan menjadi atlet hebat,” tuntas perempuan ramah ini.

(rin)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini