"PBSI sedang Sakit"

Randy Wirayudha, Jurnalis · Senin 28 Mei 2012 21:49 WIB
https: img.okezone.com content 2012 05 28 40 637182 489IlefCuh.jpg Hayom Dionysius Rumbaka mencatat sejarah buruk di Wuhan/Getty Images

JAKARTA – Permasalahan dalam tubuh PB PBSI juga ditengarai menjadi problematika jebloknya prestasi bulutangkis nasional. Terlepas dari pencapaian ganda campuran Lilyana Natsir/Tontowi Ahmad, bulutangkis Indonesia tengah dilanda prahara.

 

Bahkan, salah satu legenda , Imelda Wiguna yang hadir dalam diskusi evaluasi Thomas-Uber Cup di Hotel Atlet Century siang tadi, menyatakan PBSI tengah dalam masa penyakitan yang luar biasa. Karena dianggap pengurusnya tidak mumpuni, PBSI pun didesak melakukan perubahan besar, terutama saat musyawarah nasional, November mendatang.

 

“Saya ingin pertemuan ini (diskusi dengan SIWO-PWI Pusat dan mantan pebulutangkis nasional), tidak percuma. Kita ingin pertemuan ini mencapai hasil. Buat saya, PBSI sedag ‘sakit’. Kalau sakit kan kita butuh diagnose dan obat yang tepat,” tutur Imelda.

 

“Selama ini, jika kita gagal hanya ada sekedar evaluasi, enggak ada tindakan. Apalagi evaluasinya dilakukan orang-orang (pengurus) yang enggak capable. Kalau sampai petisi kita ini enggak didengar, pastinya sedih berat. Nangis ‘bombay’ kita (mantan pebulutangkis) semua,” lanjutnya berseloroh.

 

Dualisme di PBSI juga amat dirasakan legenda lainnya, Ivana Lie. Ivana yang kini menjabat staf khusus Kemenpora, menilai adanya ketimpang-tindihan kewenangan di tubuh PBSI.

 

“Akibat adaya tumpang-tindih ini, akibatnya banyak kebijakan dan keputusan yang enggak tepat. Apalagi datangnya dari bukan pihak yang berwenang (dewan pembinaan PBSI) dan juga pelatih yang bersangkutan,” timpal Ivana.

 

Sementara lontaran kata-kata yang tak kalah nyaring, juga diembuskan salah satu pelatih di pelatnas Cipaayung, Richard Mainaky. Richard pun menyesali adaya dualisme pelatnas yang ada di tubuh PBSI sekarang ini, ‘berkat’ adanya sokongan dari ‘sponsor’ lain.

 

“Ada dualisme pelatnas di sana (Cipayung), ada pelatnas (nomor) ganda dan tunggal. Buat saya itu sama saja ‘Pelata’, alias pelatihan wisata,” celetuknya.

 

“Jadi bagaimana mau kompak? Jika terus begini ya, hanya segini (kegagalan tim Thomas-Uber) hasilnya, enggak bisa lebih,” lanjut Richard.

 

PBSI dikabarkan tengah melakukan evaluasi terhadap tim Thomas-Uber. Tapi anehnya, evaluasi tersebut tak dilakukan di negeri sendiri, melainkan di China tanpa keikutsertaan para personil Thomas dan Uber. Maestro raket, Alan Budi Kusuma yang turut hadir pun, merasa skeptis dengan evaluasi yang dilakukan pengurus di negeri tirai bambu itu.

 

“Memang kegagalan kemarin harus segera dievaluasi, tapi bagi saya enggak ada hasil yang kelihatan tuh. Saya sampai bingung sendiri, evaluasi kok di China tanpa pemain. Saya juga enggak tahu apakah tim pelatihnnya juga ikut,” lugas suami srikandi bulutangkis, Susi Susanti itu.

 

Memang, sepertinya ada yang salah dengan kepengurusan PBSI saat ini. Rudi Hartono selaku mantan pengurus yang juga salah satu ‘suhu’ bulutangkis Indonesia, mengimbau agar pengurus saat ini lebih baik turun jika memang punya mental sportivitas.

 

“Pengurus yang merasa gagal, itu harus mundur. Kalau begitu itu namanya sportman, orang yang sportif. Pengprov (pengurus provinsi( juga harus mulai ‘melek-lah’, mereka sudah harus sadar saat munas nanti (November),” timpal Rudi Hartono.

 

“Malah yang saya dengar, mereka mau terus lanjut. Kami ini yang sudah merintis (kejayaan bulutangkis), tentu prihatin sekali. Malah yang ada, nangis kita kalau begini terus prestasi kita,” tandasnya.

(auz)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini