Sirnanya Kekompakan Personil Pelatnas

Randy Wirayudha, Jurnalis · Senin 28 Mei 2012 19:10 WIB
https: img.okezone.com content 2012 05 28 40 637144 Kk3ER48r7s.jpg Taufik Hidayat. (Foto: Getty Images)

JAKARTA – Selain hilangnya gairah dan semangat, kekompakan tim memang sebelumnya pernah disinggung Taufik Hidayat terhadap tim Thomas lalu. Hasilnya, tentu ketahuan sudah. Keterpurukan disertai aib gagal pertama kalinya ke semifinal, menjadi tumbal tak adanya kesolidan di antara sesama penyandang wakil nasional itu.

 

Memang untuk tim Uber, tak ada yang terkesan aneh dengan nihilnya prestasi. Tapi yang memang membuat Indonesia terbilang hilang muka, untuk pertama kalinya tim Thomas mampu dipulangkan tim Jepang, yang bikin lebih berkonotasi negatif, tim Thomas gagal di perempatfinal.

 

Sebelumnya, Taufik memang telah membeberkann ketidakkompakan yang ada di tubuh tim Thomas. Tapi dalam kesempatan acara diskusi dengan PWI-SIWO pusat dan para mantan pebulutangkis, Taufik kembali membeberkan secara lebih detil. Begini pengakuannya saat menghadiri diskusi di Hotel Century Park, Senin Siang (28/5/2012):

 

“Sebetulnya saya tak mau saling menyalahkan satu sama lain ya, tapi mau bagaimana lagi? Saya yang merasa senior, sudah coba sedikit menasihati beberapa kali, tapi memang tak didengar. Sebetulnya mungkin masa keemasan saya sudah lewat. Bahkan saya tadinya sudah tak mau lagi ikut tim Thomas, tapi PBSI dan negeri ini masih membutuhkan saya. Ya yang namanya dibutuhkan negara sendiri, mau enggak mau saya harus siap kembali turun (untuk ketujuh kalinya),” jelas Taufik.

 

“Saya sangat menyoroti tak adanya kebersamaan di tim. Kita satu tim tapi saya merasa hanya seolah-olah, mereka hanya mengurusi urusannya masing-masing. Latihan saja pisah. Enggak ada kebersamaan. Kalau begitu saya jadi bertanya-tanya, di mana tanggung jawab dan nasionalisme mereka,” lanjutnya.

 

“Apalagi ada satu anak (pemain) yang main di turnamen lokal di Papua. Padahal persiapan hanya tinggal satu minggu lagi. Dia kembali dua hari sebelum berangkat. Ini kan masalahnya kita mau menghadapi Thomas Cup, ajang yang lebih besar skalanya, lagi pula kita bela negara. Harusnya dia bisa pilih prioritas lah. Mana sama pengurus diberi izin (ikut turnamen tarkam). Dari situ saja saya sudah ngerasa ada yang enggak beres."

 

“Kemarin juga, setelah kita pulang dari Thomas-Uber Cup. Selama ini biasanya kita kan satu tim selalu kumpul-kumpul lagi, doa bersama. Walau menang atau kalah, kita biasanya selalu kumpul. Tapi ini enggak, sesudah turnamen ya sudah, masing-masing sendiri lagi,” tuntas Taufik.

(hmr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini