SUASANA paddock di Sirkuit Phillip Island mendadak memanas di tengah gelaran GP Australia. Muncul laporan sekira 70 persen atau dua pertiga pembalap menyatakan penolakan tegas untuk berlaga pada MotoGP Qatar 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 6–8 November 2026 mendatang di Sirkuit Internasional Lusail.
Penolakan tersebut mencuat setelah para pembalap menggelar pertemuan rahasia dan pemungutan suara tertutup. Langkah ini dipicu oleh kekhawatiran tinggi atas eskalasi konflik geopolitik regional di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, serta serangan milisi Houthi terhadap sejumlah fasilitas vital.
Seri Qatar sendiri sejatinya merupakan hasil penjadwalan ulang dari agenda awal pada April 2026. Penundaan ke akhir musim ini menempatkan GP Qatar di antara rangkaian jadwal yang padat, persis setelah GP Malaysia dan sebelum bertolak menuju seri penutup di Portugal serta Valencia.
Isu keselamatan personal dan potensi kekacauan logistik menjadi alasan utama di balik aksi penolakan mayoritas rider kelas premier tersebut. Para pembalap khawatir penutupan wilayah udara sewaktu-waktu dapat mengancam penerbangan kargo serta membuat ribuan personel kejuaraan tertahan di Doha, Qatar.
Menanggapi situasi ini, para pembalap melayangkan tuntutan resmi kepada manajemen kejuaraan dan Dorna Sports. Mereka mendesak tersedianya prosedur keamanan yang jelas, jaminan rencana evakuasi darurat bagi seluruh personel paddock, hingga penanggungan biaya akomodasi jika penerbangan mengalami pembekuan.
Rider asal Italia, Francesco Bagnaia menilai situasi genting ini sebagai momentum tepat untuk merealisasikan pembentukan serikat atau asosiasi resmi pembalap. Sementara itu, Alex Marquez mengritik tajam klaim keamanan dari penyelenggara dengan menegaskan bahwa situasi di lapangan berubah sangat cepat dan sulit dikendalikan.