Sepintas, motor yang berlaga di MotoGP, Moto2, dan Moto3 tampak tak jauh berbeda. Padahal, ketiganya memiliki spesifikasi tersendiri, baik dari segi kapasitas mesin, jumlah silinder, tenaga, maupun kecepatan maksimum.
Di kelas utama MotoGP, motor ditenagai mesin empat silinder berkapasitas 1.000 cc dengan tenaga sekitar 250 hp. Kecepatannya mampu melampaui 360 km per jam. Capaian ini ditopang beragam teknologi balap yang menempatkan motor MotoGP pada posisi tertinggi dari sisi spesifikasi dibanding dua kelas lainnya.
Sementara itu, Moto2 mengandalkan mesin tiga silinder 765 cc pasokan Triumph dengan tenaga sekitar 138 hp dan kecepatan maksimum di atas 300 km per jam. Adapun Moto3 memakai mesin satu silinder 250 cc bertenaga sekitar 60 hp, dengan kecepatan puncak mencapai 245 km per jam.
Perbedaan spesifikasi motor memengaruhi cara pembalap bersaing di lintasan. Di Moto3, persaingan umumnya sangat rapat karena motornya ringan dan performanya berdekatan. Pembalap juga perlu memanfaatkan slipstream untuk mengurangi hambatan angin saat menyalip.
Di Moto2, tenaga dan bobot motor yang lebih besar membuat kemampuan mengerem dan menikung kian menentukan, ditambah strategi menyalip, menjaga kondisi ban, serta mengatur ritme balapan. Adapun di MotoGP, pembalap harus mengendalikan tenaga besar, mengerem pada kecepatan tinggi, dan memanfaatkan beragam teknologi pada motor.
Dengan demikian, perbedaan ketiga kelas tidak hanya soal kapasitas mesin atau kecepatan. Moto3 mengandalkan persaingan rapat, Moto2 menuntut pengendalian dan strategi lebih matang, sedangkan MotoGP menghadirkan performa dan teknologi tertinggi.
(Wikanto Arungbudoyo)