Keduanya meraih kejuaraan nasional pertama dengan mengalahkan ganda putri Kalimantan Timur, Indarti Issolina dan Angeline de Pauw dengan skor 8–15, 15–8, 15–7.
Satu tahun kemudian (2004), Greysia membantu tim nasional junior untuk mendapatkan medali perunggu pada nomor beregu putri Kejuaraan Bulu Tangkis Junior Asia dan beregu campuran Kejuaraan Dunia Junior.
Selain itu, dia pun berhasil meraih perak hingga emas. Tidak berhenti sampai di situ, Greysia kembali mengikuti kompetisi Asian Games 2014 yang berlangsung di Incheon, Korea Selatan, di mana ketika itu ia berpasangan dengan Nitya Krishinda Maheswari.
Greysia dan Nitya sukses menumbangkan Misaki Matsumoto/Ayakii Takahashi asal Jepang untuk meraih emas pada saat itu.
Setelah itu, dia beberapa kali berpartisipasi di banyak pertandingan lain seperti Uber Cup, Sudirman Cup, dan World Championship.
Setelah gagal pada dua Olimpiade sebelumnya, yaitu pada 2012 dan 2016, Greysia Polii sukses meraih mimpinya pada Olimpiade Tokyo 2020 yang digelar musim panas 2021. Bersama Apriyani Rahayu, Greysia mencatatkan tinta emas dalam sejarah bulu tangkis Indonesia sebagai pasangan ganda putri pertama Indonesia yang meraih emas Olimpiade.
Kini, Greysia Polii telah pensiun dan olahraga yang membesarkan namanya. Meski begitu, dia tetap berpesan kepada junior-juniornya di ganda putri untuk tidak lelah berjuang karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.
“Berkatalah yang optimis dan positif maka mimpi kalian akan terwujud,” katanya.
(Reinaldy Darius)