Usai Olimpiade Tokyo 2020, Lifter Transgender Laurel Hubbard Ingin Pensiun

Cikal Bintang, Jurnalis
Rabu 04 Agustus 2021 18:13 WIB
Lifter transgender Laurel Hubbard ingin pensiun usai Olimpiade Tokyo 2020 (Foto: Reuters)
Share :

TOKYO - Lifter transgender asal Selandia Baru, Laurel Hubbard, mencuri perhatian di Olimpiade Tokyo 2020. Setelah sempat menjadi bahan pembicaraan, Hubbard menyatakan ingin pensiun usai Olimpiade Tokyo 2020.

Hubbard menyatakan faktor usia adalah alasan utama di balik keputusannya untuk pensiun. Atlet asal Selandia Baru itu ingin berkonsentrasi pada hal-hal di luar angkat besi setelah pensiun.

“Usia telah mengejar saya. Bahkan jika kita jujur, itu (komentar-komentar soal dirinya atlet transgender) mungkin menarik perhatian saya beberapa waktu lalu,” kata Hubbard dilansir dari Fox Sport, Rabu (4/8/2021).

“Keterlibatan saya dalam olahraga mungkin karena tidak ada atlet yang lain, dan mungkin sudah waktunya bagi saya untuk mulai berpikir untuk gantung sepatu (pensiun) dan berkonsentrasi pada hal-hal lain dalam hidup saya,” tambahnya.

BACA JUGA: Jadi Transgender Pertama di Olimpiade, Laurel Hubbard: Saya Ingin Dianggap sebagai Seorang Atlet

Sebagaimana diketahui, Hubbard merupakan atlet transgender pertama yang secara resmi diumumkan oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC) untuk mengikuti cabang olahraga (cabor) angkat besi putri. Akan tetapi, dia gagal tampil maksimal dalam penampilan perdananya.

Saat itu, dia terlihat kewalahan mengangkat beban dalam tiga percobaan snatch. Dia gagal pada percobaan angkatan pertama seberat 120 kg, lalu hasil serupa tersaji saat dia mencoba mengangkat beban seberat 125 kg.

Sementara itu, keikutsertaan Hubbard di olimpiade sempat menimbulkan kontroversi. Status transgender Hubbard adalah penyebabnya. Penampilannya di sektor putri menimbulkan berbagai protes karena dia adalah lelaki sebelumnya. Akan tetapi, berkat aturan terbaru pada 2015, IOC memperbolehkan Hubbard untuk berlaga di nomor putri.

Sementara itu, Hubbard menyambut baik sikap IOC yang tetap memperbolehkannya berkompetisi. Menurutnya, IOC bersikap tepat karena turut mendukung inklusifitas dalam ajang olahraga.

“Saya tidak yakin, bahwa seorang panutan adalah sesuatu yang saya cita-citakan. Sebaliknya, saya berharap hanya dengan menjadi saya dapat memberikan dorongan semangat,” katanya.

“Meskipun ada aturan saat ini, mereka pasti akan berubah dan berkembang karena semakin banyak yang diketahui tentang atlet transgender dan apa artinya partisipasi dalam olahraga,” ucapnya.

Hubbard gagal di Olimpiade Tokyo 2020. Akan tetapi, fakta bahwa dia adalah atlet transgender pertama di olimpiade akan tercatat dalam sejarah.

(Andika Pratama)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Sports lainnya