Apa yang sedang terjadi?
Para ilmuwan seperti Haake percaya kemajuan itu adalah kombinasi dari faktor-faktor yang dimulai dengan meningkatnya partisipasi dalam olahraga itu di seluruh dunia. Kemudian disusul oleh akses metode pelatihan yang membaik.
"Lebih banyak atlet di seluruh dunia sekarang mendapat manfaat dari pelatihan khusus dan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi olahraga untuk meningkatkan peluang mereka berlari lebih cepat," tambah Haake.
Buktinya adalah sprinter "sub-10" telah berkembang melampaui kekuatan yang biasanya didominasi oleh AS, Jamaika, dan negara-negara seperti Inggris Raya dan Kanada - yang semuanya telah memenangkan setidaknya satu medali emas Olimpiade di 100 meter putra.
Nigeria, misalnya, berbagi dengan Inggris Raya dalam jumlah atlet terbanyak ketiga yang telah berlari di bawah 10 detik dengan 10 sprinter. Kemudian, muncul pula para pendatang baru seperti Jepang, Turki, China dan Afrika Selatan, negara-negara yang kurang terkenal dengan atlet larinya.
Hasil serupa juga terjadi di nomor 100 meter putri. Batasan waktu 11 detik pertama kali dipatahkan pada tahun 1973 oleh sprinter Jerman Timur Renate Stecher. Pada 2011, muncul 67 atlet yang telah memecahkan waktu itu.
Sepuluh tahun kemudian, totalnya menjadi 115 sprinter yang di antaranya berasal dari negara-negara dengan tradisi yang kurang dalam kompetisi tersebut.
Sepatu, lintasan, dan ilmu olahraga
Teknologi memiliki peran penting : sprinter hari ini berlari dengan sepatu yang lebih ringan - model terbaru dapat memiliki berat kurang dari 150 gram.
Alas kaki hari ini juga dibuat dengan bahan yang sangat berbeda. Salah satu contohnya adalah kolaborasi antara sepatu merek Puma dari Jerman dan tim Formula Satu Mercedes, yang menghasilkan sepatu sprint dengan sol yang terbuat dari serat karbon - bahan yang sama yang digunakan untuk mendesain mobil beberapa pembalap juara dunia Lewis Hamilton.
Lintasan lari juga telah berkembang pesat sejak atlet-atlet elite masa lampau berlari di permukaan tanah liat atau rumput dalam kompetisi. Lintasan sintetis pertama kali digunakan dalam Olimpiade tahun 1968 di Meksiko, menawarkan perlindungan lebih pada sendi atlet dan memberikan efek loncatan yang akan menghasilkan waktu lebih cepat.
Pada pertandingan yang sama itulah sprinter AS Jim Hines menjadi manusia pertama yang melesat di trek sepanjang 100 meter dengan waktu 9,95 detik.
Dorongan untuk menciptakan lintasan yang menunjang sprinter berlari lebih cepat terus berkembang, seperti menggunakan butiran karet vulkanisir yang kini tengah dipertimbangkan.
Pada Olimpiade Beijing 2008, pembuat permukaan trek dari Italia Mondo merayakan lima rekor dunia yang tercipta di atas trek yang dipasoknya untuk kompetisi atletik, hampir sama seperti yang dilakukan para pelari.
Selain memberikan sarana penunjang, sains juga berperan dalam nutrisi dan pelatihan para atlet. Pelari hari ini dapat dianalisis secara menyeluruh, dan penyesuaian dilakukan pada teknik dan waktu reaksi. Penelitian bahkan telah mengidentifikasi otot mana yang lebih penting bagi sprinter untuk berhasil.
Oktober lalu, tim ilmuwan dari Loughborough University, lembaga terkemuka dalam studi ilmu olahraga, menemukan bahwa gluteus maximus (otot yang membentuk bagian bawah) adalah kunci bagi atlet untuk mencapai kecepatan tertinggi di lintasan.
"Kami sekarang memiliki pengetahuan bahwa ada distribusi otot yang sangat spesifik pada sprinter elite," kata Sam Allen, ahli biomekanik yang mengambil bagian dalam penelitian itu.
"Jadi, kita akan segera melihat sprinter bekerja secara khusus pada pengembangan itu."