INDONESIA Rider Expedition (IRE) melakukan touring keliling Eropa wilayah Barat dan Italia dimulai pada Jumat 14 April 2017. Perjalanan selama seminggu itu mengitari wilayah Belanda, Belgia, Luxemburg, Prancis, daerah pegunungan di Swiss, Jerman hingga Italia.
Awalnya, tim IRE yang terdiri dari 14 orang hendak menyewa motor dari Italia, tetapi harga yang tak terjangkau membuat tim mengalihkan titik mulai perjalanan dari Amsterdam, Belanda. Perjalanan pun dipandu oleh salah satu warga Italia yakni Andrea Milano yang sekaligus teman dari Team Leader IRE 2017, Wijaya Kusuma.
Perjalanan dari Amsterdam menuju Italia melalui Swiss dan selatan Jerman dengan suhu rata-rata berkisar 6 derajat celcius. Sebenarnya kondisi tersebut kurang baik untuk melakukan touring, tetapi tim IRE tetap melanjutkan perjalanan dengan persiapan yang matang.
Cuaca dingin, jalan licin dengan sedikit salju dan angin juga cukup kencang menjadi tantangan tersendiri bagi tim IRE. Namun, kedisiplinan menjadi kunci keberhasilan mereka untuk melintasi rute Eropa wilayah Barat hingga Italia.
Akibat kondisi tersebut, saat motor digeber dalam kecepatan 130 km/jam terasa goyang. Hal ini membuat para anggota rombongan harus pandai mengatur kecepatan sekalipun di jalan bebas hambatan (highway).
Menurut Wijaya, kecepatan saat tikungan berkisar 70 km/jam dan ini masih sesuai dengan anjuran lalu lintas di Eropa. Bahkan, ia menyebut jika di Eropa ada catatan perjalanan dengan kecepatan di setiap daerah yang dilalui terekam oleh kamera CCTV di sepanjang jalan.
Maka dari itu, saat mengembalikan motor sewaan yang dipinjam tim IRE, jasa penyewaan motor itu akan memberikan kartu perjalanan tersebut. Wijaya menuturkan, selain kedisiplinan, perjalanan ini juga memiliki misi untuk mengetahui sisi budaya, pengaturan manajemen perjalanan, dan ajang keakraban antaranggota.
“Saya punya kenalan di Eropa yakni Andrea Milano dari Italia dan juga kawan dari Belanda bernama Coen Hoogendijk bersedia menjadi road captain. Mulailah kami mempersiapkan visa, tiket dan segala sesuatu persiapan untuk keberangkatan. Kami pun mempelajari perjalanan di sana, rute, lalulintas, suhu dan tentunya komunikasi,” kata Wijaya Kusuma saat menceritakan pengalamannya kepada Okezone, Senin (8/5/2017).
Minggu 16 April 2017 dini hari tim mulai bergerak menuju Luxembourg, melalui Maastricht, Belanda. Jarak tempuh jalur Maastricht hingga Luxembourg mencapai 217 Km perjalanan melalui jalanan highway. Ancaman seperti hujan dan cuaca dingin mengancam perjalanan tim saat itu.
Dengan kecepatan rata-rata 130 km/jam, tim sampai di Luxembourg pukul 11.00 waktu setempat. Setelah makan siang, tim berfoto ria di Cathedral Basilica of Saint Servatius, gereja tua yang dibangun tahun 1180.
Selanjutnya, Senin 17 April 2017, cuaca dingin hingga minus 4 derajat celsius mengiringi perjalanan menuju Zurich Swiss. Kali ini, tim melewati jalan pedesaan (country side) dengan jarak tempuh 446 KM menuju Colmar, desa kecil yang masuk wilayah Perancis. Tim pun berhasil melewati 4 negara sekaligus yakni Luxembourg, Jerman, Perancis dan Swiss dalam satu waktu.
PERJALANAN dilanjutkan pada pukul 11.00 siang, Selasa 18 April 2017, tim keluar Kota Zurich menuju Milan Italia. Tim yang berkendara dibantu Andrea yang memandu jalan. Lalu tim keluar Kota Zurich menuju pergunungan Alpen, melewati Kota Andermatt dan merasakan terpaan hujan salju sepanjang jalan.
Kemudian tim IRE menuju Kota Lucerne dalam perjalanan ke Milan. Karena hujan salju, maka jalan pedesaan melewati pegunungan Alpen (Gotthard Strasse) ditutup, alternatifnya tim memasuki terowongan Gotthard Pass. Di sinilah, tim mendapat tantangan lain yakni terkena tilang dari kepolisian setempat usai berkonvoi melalui sisi kanan jalan.
Sebelum sampai di Milan, tim mampir di Danau Como sembari menyantap steak. Danau Como adalah danau yang terletak di ketinggian dengan pemandangan yang menajakan mata. Sekitar jam 19.00 malam tim tiba di Milan dan mulai dengan mengunjungi Ill Duomo, gereja tua yang terletak di kota Milan ini mampu menampung jemaat sebanyak 40.000 orang.
Gereja ini dibangun pada pada abad ke-14, dan dibangun saat zaman Napoleon. Atap atasnya terdiri dari 135 batu halus berukir dengan eksterior yang dihiasi dengan 2.245 patung-patung marmer.
(Foto: Istimewa)
Setelah semua masalah beres, tim bergegas menuju ke arah Torino dan belok ke kanan menuju Chamonix Mount Blanc, pegunungan salju terkenal di selatan Perancis dan merupakan tempat olahraga ski. Tim memilih beristirahat dan berfoto menikmati indahnya alam Mount Blanc.
Setelah berfoto bersama, tim bergerak meninggalkan Mount Blanc menuju arah Macon Perancis. Di daerah Magland tim berhenti untuk makan siang, sekaligus refueling motor. Cuaca saat itu cerah dan matahari nampak menyinari, walaupun demikian suhu udara tetap dingin. Tim bergerak lagi pada pukul 15.00 siang dan harus mengejar waktu untuk tiba di Macon sebelum gelap.
Tidak banyak yang tim perbuat di Macon. Selain tidak ada obyek turis, Macon hanyalah kota persinggahan atau tempat rehat para petualang yang sedang melintas. Pagi dini hari, tim bergegas menuju Paris, ini adalah hari ke lima tim berpetualang dengan sepeda motor.
Setelah itu, tim IRE kembali ke tempat penyewaan motor di Belanda. Mereka pun disambut oleh Jacob Schootan dan Lust dua orang kerabat asli Belanda. Setelah mengembalikan motor, tim menuju hotel dan malamnya melakukan perpisahan dengan Coen yang menjadi road captain. Suasana kekeluargaan dan perpisahan dilakukan di Restoran Indonesia ‘Bejo’ di Lange Leidsedwarstratt di Amsterdam Central.