Pada hari kedua, Indonesia semakin menunjukkan keperkasaannya. Tjun yang kali ini turun di nomor tunggal putra berhasil membuka peluang Indonesia untuk merebut piala Thomas setelah menang atas James 15-1 dan 15-7. Indonesia semakin di atas angin karena berhasil menang 5-0.
Tiba saatnya di partai penentuan yakni Liem menghadapi Saw di partai keenam. Tak ingin terlewatkan begitu saja, kesempatan emas ini langsung dimanfaatkan Liem untuk mempertahankan Piala Thomas 1976 dengan menang dua set langsung 18-15 dan 15-3.
Piala Thomas pun kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi untuk yang kelima kalinya. Sementara tiga partai yang tidak menentukan lagi tetap dimenangkan Indonesia, lewat Rudy dan pasangan Christian/Ade serta Tjun/Johan.
Liem akhirnya menuliskan kisah suksesnya di Piala Thomas 1976 dalam bukunya ‘Panggil Aku King’ sebagai salah satu momen terbaiknya. Dalam bukunya, ia bahkan menyebutkan momen kembalinya Piala Thomas di 1976 setelah menang 9-0 atas Malaysia, sangat disambut meriah oleh masyarakat di Tanah Air.
“Saat kembali ke Tanah Air, aku menyaksikan spanduk besar terbentang di Bandara Halim Perdana Kusuma, ‘Selamat Datang Para Pahlawan Bulu Tangkis.’ Ribuan orang tampak berdesak-desakan hingga ke atap gedung bandara dan melambai-lambaikan tangan,” tulis Liem dalam bukunya.
(Fetra Hariandja)