KUNINGAN — Gelaran Tour de Linggarjati 2016 telah berakhir. Pembalap Indonesia, Agung Ali Sahbana berhasil menjadi juara umum pada kompetisi balap sepeda internasional yang diselenggarakan dari 28 sampai 30 Oktober 2016.
Meski telah berakhir, para pembalap masih merasakan beratnya bertarung di Tour de Linggarjati. Maklum saja, tiga etape yang ditempuh para pembalap tak pernah lepas dari lintasan tanjakan.
Tour de Linggarjati yang menelusuri daerah Kabupaten Kuningan memang sangat kental dengan tanjakan dengan tikungan tajam. Tak terus-terusan diberikan tanjakan, namun para pembalap juga diberikan turunan pendek yang kemudian kembali dilanjutkan dengan tanjakan. Tentu kondisi tersebut memaksa para pembalap harus pandai melakukan transisi gigi
Pembalap Malaysia, Muhammad Zawai Bin Azman, mengaku sempat kewalahan dengan lintasan Tour de Linggarjati. Ia sempat membandingkan lintasan di Kuningan dengan lintasan yang ada di Tour de Singkarak. Namun, ia menyebut Tour de Linggarjati tak mengizinkan para pembalap untuk beristirahat.
“Saya rasa ini layak untuk ajang lebih tinggi karena memaksa pembalap untuk meningkatkan skill. Saya rasa ini mirip Singkarak tapi Singkarak masih ada lintasan datar, ini sama sekali tak ada celah untuk bernafas,” ujar Zawai kepada para wartawan.
Pembalap Indonesia Hari Fitrianto yang memperkuat tim Laos, Black Inc CCN, menyebut lintasan di Kuningan menjadi yang tersulit di Indonesia. Namun, ia memberikan sorotan kepada aspal yang masih perlu diperbarui.
“Kalau seingat say , selama lomba, kuningan paling menantang dan susah ditaklukkan. Menanjak, turun, menikung. Rute boleh kecil tapi kalau bisa aspalnya diperbaiki. Saya rasa belum ada yang seberat ini,” ujar Hari yang berhasil menjadi juara umum kategori sprint.
(Ramdani Bur)