BANDUNG – Kontingen DKI Jakarta merasa dijegal aturan dalam Technical Hand Book (THB) di cabang olahraga (cabor) renang indah pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX 2016. (Baca: Ricuh di Cabang Renang Indah, DKI Ngadu ke FINA)
Atlet DKI Adella Amanda Nirwala, terpaksa tidak bisa bertanding di nomor Solo Technical Routine putri karena ada pembatasan usia. Hal itu berujung Walk Out (WO) Kontingen DKI di dua nomor lain, yaitu duet Technical Routine putri dan Team Free Routine putri.
Ketua Kontingen DKI Djamhuron Wibowo, angkat suara terkait permasalahan itu. Ia menyesalkan adanya aturan baru yang membuat atletnya tidak bisa bertanding.
"Amat sangat merugikan kita. Kita sudah membina (atlet) selama sekian tahun. Tiga tahun kita bina semuanya, dari babak kualifikasi semua ikut. Pada saat klimaksnya dipotong begitu saja. Tidak diizinkan (bertanding)," kata Djamhuron di Graha Manggala Siliwangi, Bandung.
Ia heran dengan aturan yang berlaku saat pelaksanaan pertandingan. Padahal selama babak kualifikasi, aturan itu tidak ada sama sekali. Atletnya pun melenggang mulus mengikuti fase kualifikasi.
Tapi di detik akhir, justru atletnya tidak bisa tampil dengan alasan adanya pembatasan usia dalam THB. Apalagi aturan seperti itu juga tidak ada di Federasi Renang Internasional atau FINA dan Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI).
Keabsahan Adelia untuk bertanding pun sudah ditempuh melalui proses panjang. Dari sisi administrasi pun selama ini tidak ada masalah. "Tapi begitu masuk ke lapangan ada aturan baru lagi," cetusnya.
Seharusnya jika memang ada pembatasan usia, hal itu diberlakukan sejak awal. Sehingga atletnya tidak bisa ikut sejak babak kualifikasi. Sementara yang terjadi, atletnya lolos di babak kualifikasi tapi tidak bisa bermain dalam pertandingan sesungguhnya.
"Dari awal harusnya seperti itu. Ini sudah lolos kualifikasi, ‘ujug-ujug’ muncul THB baru yang tidak dimusyawarahkan atau tidak ada persetujuan dari PB PRSI," jelasnya.
"Buktinya apa? PB PRSI mengeluarkan aturan juga bahwa tidak ada batasan umur. Berarti (THB) ini ilegal. Lewat mana dia (panitia) mengeluarkan aturan (pembatasan usia) itu," tegas Djamhuron.
Disinggung apakah DKI merasa dijegal oleh pihak tertentu agar tidak bisa tampil di cabor renang indah untuk memperebutkan medali emas, ia ogah melempar tudingan. "Ya bapak (wartawan) yang jawab, lho. Bukan saya," ucapnya.
Meski begitu, ia menyebut aturan tersebut melukai mental atlet. Sebab harapan untuk meraih medali emas, tiba-tiba hancur begitu saja. Padahal mereka sudah melakukan persiapan matang sejak jauh-jauh hari untuk mengikuti pertandingan.
"Amat sangat mencederai mental atlet dan pembinaan ke depan seperti apa, saya tidak tahu jadinya. Kalau semua prestasi yang diharapkan untuk mencapai prestasi internasional, tapi di nasional sendiri dijegal," ungkapnya.
"Apakah itu tidak merusak mental atlet menjadi juara? Secara tidak langsung mental-mental seluruh atlet akan bertanya, apakah nanti saya akan dibuat seperti itu," tandas Djamhuron.