BRACKLEY - Brawn GP boleh sukses musim ini. Dari merk dagang saja, tim yang disokong Virgin Group ini meraup laba USD255 juta. Tapi ternyata ada beberapa pihak terluka. Sejumlah staf senior mengaku tidak kebagian jatah "kerja lemburan". Benarkah?
Isu ini mencuat setelah Daily Telegraph membeberkan beberapa staf, terutama star senior, merasa tidak puas dengan bonus yang dibagikan. Menurut mereka, pendapatan itu tidak sesuai dengan kerja keras mereka setahun terakhir.
Direktur eksekutif Brawn GP Nick Fry mengaku terkejut mendengar rumor ini. Sebab, spekulasi kemudian berkembang sejumlah tim besar seperti Red Bull, Ferrari dan McLaren siap menampung para staf yang tidak puas dan memberi gaji layak.
"Tak ada yang memberitahu saya perihal ini," bantah Fry seperti dilansir motorsport.com, Kamis (22/10/2009), "Saya sangat kaget mendengarnya. Mungkin ini perasaan beberapa orang saja, kami tidak menyadarinya."
"Ini memang persoalan internal, tapi jika ada yang komplain, kami siap diajak bicara," tambahnya.
Ini bukan kali pertama skuad yang bermarkas di Brackley itu disenggol masalah gaji. Diketahui, demi berpartispasi di laga kelas dunia ini, si pembalap Jenson Button rela gajinya dipangkas. Dia bahkan membayar sendiri seluruh biaya perjalanan dan akomodasi serangkaian seri grand prix musim 2009.
Yang lebih mengejutkan, kepada La Stampa, bos tim Ross Brawn mengakui tim hampir saja tidak menggaji Button.
"Hampir saja. Kami tak sanggup membayar gajinya. Tapi tahun ini dia setuju gajinya dipotong lebih dari setengah," beber Brawn.
(Devy Lubis)