PEMBALAP asal Turki, Toprak Razgatlioglu tampak kesulitan pada musim perdananya di MotoGP 2026. Rider pemilik tiga kali juara dunia World Superbike (WSBK) itu bahkan mulai menyerah untuk meraih hasil terbaik di musim 2026 ini dan mulai mengalihkan fokus menatap MotoGP 202.
Ya, langkah awal Toprak di pentas MotoGP tidak berjalan semulus yang dibayangkan banyak orang. Setelah meraih kejayaan luar biasa di ajang WorldSBK, pembalap asal Turki ini harus menghadapi kenyataan pahit saat menjalani paruh pertama musim perdananya bersama tim Pramac Yamaha.
Memasuki 12 balapan awal, jumlah yang secara durasi setara dengan satu musim penuh di Superbike, Toprak masih tertahan di peringkat ke-21 klasemen sementara. Hasil terbaik yang mampu ia raih sejauh ini hanyalah finis di urutan ke-11 pada seri Hungaria, sebuah pencapaian yang jelas jauh dari standar sang juara dunia.
Meski begitu, situasi sulit ini sama sekali tidak melunturkan mentalitas bertarungnya. Pembalap bernomor motor khas tersebut memandang setiap kendala sebagai proses pembelajaran demi menyongsong target yang jauh lebih masif pada musim 2027 mendatang.
Kegagalan menembus posisi 10 besar dalam selusin balapan awal diakui Toprak sebagai masa-masa yang menantang secara mental. Terbiasa bertarung untuk podium dan kemenangan di ajang sebelumnya, ia kini harus puas bersaing di papan tengah dan bawah.
Situasi ini kian rumit karena tim pabrikan Garpu Tala tengah berada dalam fase transisi besar-besaran. Yamaha sedang fokus mengembangkan konsep mesin V4 terbaru mereka, sehingga peran Toprak tidak sekadar beradaptasi sebagai pendatang baru, tetapi juga ikut memikul beban pengembangan motor.
Rekan satu timnya, Jack Miller, menilai bahwa waktu kepindahan Toprak ke MotoGP kurang menguntungkan. Mengembangkan motor yang benar-benar baru di tengah kompetisi yang sangat ketat menjadi tantangan ganda bagi pembalap yang belum memiliki jam terbang tinggi dengan ban dan karakteristik mesin prototipe.
Meskipun demikian, Toprak memilih untuk memaklumi situasi tersebut dan tidak menimpakan kesalahan pada timnya. Ia memahami betul bahwa proses perbaikan memerlukan waktu dan komitmen jangka panjang dari seluruh teknisi yang terlibat.
"Ini adalah proyek baru bagi Yamaha, mereka terus berusaha memahami mesin ini dan berbenah. Bagi saya pribadi, ini adalah tahun untuk belajar. Tentu saja tidak mudah ketika setelah dua musim yang sangat sukses di Superbike, kini saya harus finis di posisi ke-13, 14, atau 15," ungkap Toprak , mengutip dari Crash, Minggu (23/8/2026).
Keyakinan Toprak terhadap potensi Yamaha tidak pernah surut sedikit pun. Rekam jejak sejarah pabrikan asal Iwata tersebut sebagai salah satu kekuatan terbesar di Grand Prix menjadi fondasi utama rasa optimismenya.
Toprak percaya pengorbanan serta kerja keras yang dilakukan sepanjang musim 2026 ini akan membuahkan hasil manis pada musim 2027. Pada saat itulah Toprak membidik target tinggi untuk tidak sekadar meramaikan persaingan 10 besar, melainkan bertarung di barisan terdepan.
Sisa balapan di musim perdananya ini akan dimaksimalkan untuk menyerap ilmu sebanyak mungkin, menyempurnakan gaya balap khas MotoGP, serta membantu Yamaha menyempurnakan paket motor mereka agar siap tampil kompetitif.
"Saya hanya fokus pada proses ini karena target saya tahun depan sangat besar. Musim ini saya harus belajar lebih banyak agar bisa memulai musim depan dengan jauh lebih kuat. Saya percaya Yamaha akan segera bangkit karena mereka selalu punya sejarah menjadi yang terbaik," tutup Toprak.
(Rivan Nasri Rachman)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.