Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Perjuangan Nova Widianto, Diberikan Misi Berat Mengembalikan Taji Ganda Campuran Indonesia

Rivan Nasri Rachman , Jurnalis-Jum'at, 14 Agustus 2026 |00:01 WIB
Kisah Perjuangan Nova Widianto, Diberikan Misi Berat Mengembalikan Taji Ganda Campuran Indonesia
Ganda campuran Indonesia, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta. (Foto: PBSI)
A
A
A

SEKTOR ganda campuran pelatnas PBSI kini tengah memasuki babak baru. Setelah melakukan evaluasi mendalam, PP PBSI memutuskan merombak jajaran pelatih dengan menunjuk kembali Nova Widianto sebagai kepala pelatih, menggantikan posisi yang sebelumnya diisi oleh Rionny Mainaky dan Amon Sunaryo.

Langkah ini diambil di tengah upaya perbaikan performa atlet yang belakangan dinilai belum memuaskan. Sebagai bagian dari penyesuaian strategi, PBSI juga menarik dua pasangan, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu dan Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil, dari daftar peserta BWF World Championships 2026 di New Delhi, India.

Sekjen PP PBSI, Ricky Soebagdja, menyatakan penarikan tersebut merupakan langkah administratif untuk memastikan kesesuaian dengan regulasi yang berlaku. Di samping itu, PBSI juga tengah memantau proses peradilan independen oleh BWF terkait dugaan pelanggaran integritas yang melibatkan sejumlah pemain.

Terkait proses hukum tersebut, PBSI memilih untuk menghormati jalannya mekanisme BWF. Pihak federasi menegaskan tidak akan berkomentar lebih lanjut guna menjaga kondusivitas, serta tidak ingin mengaitkan proses yang sedang berlangsung dengan individu atlet tertentu.

1. Tantangan Regenerasi

Tugas besar kini menanti Nova Widianto. Usai menghabiskan 3,5 tahun melatih di Malaysia, ia kembali ke tanah air dengan tantangan nyata: meningkatkan prestasi sektor ganda campuran yang stagnan pasca-era Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir serta Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti.

Nova Widianto
Nova Widianto

Permasalahan regenerasi menjadi catatan penting. Saat ini, sektor ganda campuran pelatnas dinilai kekurangan sosok senior yang tangguh untuk membimbing para pemain muda. Tanpa adanya pasangan senior yang kompetitif, lingkungan latihan yang mampu memacu perkembangan atlet menjadi sulit terbentuk.

Performa pasangan-pasangan muda pun belum stabil. Jafar/Felisha, yang sebelumnya sempat bersinar di Taipei Open 2025 dan China Open 2025, justru mengalami penurunan performa drastis tahun ini dengan sering terhenti di babak awal turnamen.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Sport lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement