Olimpiade Tokyo 2020 Diyakini Jadi Simbol Solidaritas

Antara, Jurnalis · Senin 15 Maret 2021 01:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 14 43 2377667 olimpiade-tokyo-2020-diyakini-jadi-simbol-solidaritas-bhT682czaO.jpg Logo Olimpiade (Foto: Media IOC)

TOKYO - CEO dari panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo percaya Olimpiade Musim Panas tahun ini dapat menjadi simbol solidaritas. Gelaran kali ini diyakini akan membantu mengurangi jarak emosional antara orang-orang yang telah berjuang dengan kesepian dan kecemasan di waktu yang gelap dan suram yang disebabkan oleh virus corona (Covid-19).

CEO Tokyo 2020, Toshiro Muto, mengatakan nilai dari penyelenggaraan Olimpiade Tokyo telah berubah secara signifikan sejak virus tersebut melanda dunia dan memaksa orang untuk mengisolasi diri atau mengubah gaya hidup mereka untuk meminimalkan risiko infeksi tanpa mengetahui kapan pandemi akan berakhir.

Baca juga: Olimpiade Tokyo Pertimbangkan Kehadiran Penonton 50%

"Sebelum virus merebak, saya kira orang akan mengerti jika saya menjelaskan manfaat Olimpiade, tapi kita sekarang berada dalam krisis serius yang mungkin hanya terjadi sekali dalam beberapa abad," kata Muto, dikutip dari Kyodo News.

Logo Olimpiade

"Jika kita berbicara tentang Olimpiade selama ini, saya mengakui bahwa diskusi harus diadakan pada tingkat yang sama sekali berbeda," sambungnya.

Olimpiade selama bertahun-tahun telah mempromosikan perdamaian dan kesejahteraan invididu. Dia menyarankan agar Olimpiade Tokyo yang sukses dapat menjadi inspirasi selama periode yang menantang ini dan berkontribusi untuk menyatukan orang secara mental, jika tidak secara fisik.

Baca juga: Agar Gelaran Olimpiade Lebih Menarik, IOC Sepakat Paket Reformasi

"Jika kami ingin menciptakan solidaritas dan bukan divisi, itu bisa dilakukan melalui Olimpiade. Semua orang tahu bahwa olahraga memiliki kekuatan untuk mengubah dunia," kata pria berusia 77 tahun itu.

"Itu tergantung pada upaya yang dilakukan oleh orang Jepang untuk memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya," jelasnya.

Tetapi, Muto yang merupakan mantan wakil gubernur Bank of Japan, juga menyadari betul akan skeptisisme publik atas Olimpiade dan Paralimpiade. Dia mengatakan krisis kesehatan global telah menyulitkan banyak orang untuk memberikan dukungan mereka.

"Saya mengerti, tidak mungkin semua orang secara seragam mengatakan bahwa pertandingan itu harus diadakan. Aneh jika (semua orang) berkomentar sembarangan," kata Muto.

Namun, menurut Muto, lebih baik memiliki pemikiran bahwa Tokyo Games 2020 akan mencapai hasil yang baik daripada mengatakan "itu tidak mungkin" atau "tidak boleh diadakan."

Panitia penyelenggara berjanji akan memprioritaskan keselamatan selama Olimpiade Musim Panas, yang diharapkan akan melibatkan sekitar 15.000 atlet dari seluruh dunia.

Namun, dengan kurun waktu empat bulan menjelang upacara pembukaan Olimpiade, pandemi tampaknya masih jauh dari kata selesai, meskipun ada upaya global untuk mengekang infeksi.

Tokyo, yang pernah menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas 1964, telah berada dalam keadaan darurat COVID-19 sejak awal Januari, ketika tercatat ada lebih dari 2.500 kasus setiap hari di Jepang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini