Pada babak semifinal, Laysa yang sempat unggul 1-0 lebih dulu melawan pecatur Belanda, Eline Roebers (2066). Cuma butuh hasil remis pada partai kedua. Laysa yang pegang buah hitam ini pun memasang strategi main bertahan. Ini tampaknya strategi yang keliru karena buah caturnya jadi pasif, sementara Eline jadi leluasa menyerang dan menyerang, akhirnya Eline memang yang menang.
Berlanjut ke partai Armageddon, dalam undian buah catur, Laysa mendapat buah hitam. Menyadari hanya butuh remis, Laysa kembali pasang strategi bertahan dan lagi-lagi berakibat Eline leluasa menyerang dan menyerang hingga menang. Kalah 1-2, Laysa harus puas hanya bertarung untuk memperebutkan posisi ketiga.
Dalam perebutan tempat ketiga, Laysa yang sempat unggul 1-0 duluan, harus menyerah pada partai kedua karena memilih variasi yang sangat tajam dari pertahanan Semi-Slav sistem Botvinnik dengan mengorbankan satu bidak yang ternyata tidak bisa direbut kembali.
Baca Juga: Joe Rogan Terkesan dengan Ketaatan Khabib Nurmagomedov sebagai Muslim
Dengan skor 1-1 maka dimainkanlah partai Armageddon. Laysa yang kembali dapat buah hitam dalam undian, memilih pertahanan Gambit Menteri.
Laysa yang hanya butuh remis kali ini tidak memasang strategi bertahan. Dia main normal dan ternyata mampu memenangi partai hidup-mati tersebut. Laysa Latifah pun menjadi juara tiga dunia Girl 14 yang akan menjadi kado bagi dirinya yang akan berulang tahun ke-15 pada 11 Januari 2021.
Indonesia menurunkan 8 pecatur dalam ajang ini, tapi hanya dua pecatur yang mampu lolos hingga babak final. Selain Laysa, adalah Samantha Edithso di kelompok G12 yang juga lolos kualifikasi Asia sebagai juara dengan merebut angka sempurna 7 poin dari tujuh babak.
(Ramdani Bur)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.