Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Alasan Indonesia Tak Jadi Dapat Medali Perak di Cabor Modern Pentathlon SEA Games 2019

Hendry Kurniawan , Jurnalis-Jum'at, 06 Desember 2019 |11:03 WIB
Alasan Indonesia Tak Jadi Dapat Medali Perak di Cabor Modern Pentathlon SEA Games 2019
Atlet Modern Pentathlon, Dea Salsabila Putri (Foto: Instagram)
A
A
A

ZAMBALES – Kontroversi terjadi di cabang olahraga (cabor) modern pentathlon nomor beach triathle individual women dalam gelaran SEA Games 2019. Pasalnya, di nomor tersebut dua atlet Indonesia menempati posisi pertama dan kedua, namun Tim Merah Putih hanya mendapat satu medali.

Atlet Indonesia, Putri Dea Salsabila tampil sebagai yang tercepat di nomor ini dengan catatan waktu 19 menit 52,73 detik. Sementara itu, posisi kedua ditempati oleh wakil Indonesia lainnya, Nariska Cintya. Akan tetapi, ketika acara pengalungan medali, hanya Putri saja yang dipanggil ke atas podium.

Baca juga: Jadwal Pertandingan Timnas Biliar Indonesia di SEA Games 2019, Jumat 6 Desember

Dea Salsabila Putri

Sementara itu, Nariska yang seharusnya mendapat medali perak, justru tidak dipanggil ke atas podium. Panitia penyelenggara justru memanggil atlet Thailand, Aransiri Saruntai, yang menempati posisi ketiga untuk menerima medali perak. Sedangkan medali perunggu diberikan kepada wakil Filipina, Arbilon Princes Honey, yang sejatinya finis keempat.

Hasil Modern Pentathlon SEA Games 2019

Tak terima dengan hal itu, Manajer Modern Pentathlon Indonesia (MPI), Glenn Apfel pun melayangkan protes. Akan tetapi, Glenn tak mendapat jawaban yang memuaskan dari pihak penyelenggara. Mereka beralasan, Indonesia hanya mendapat satu medali karena di nomor ini setiap negara maksimal hanya boleh mendapat satu. Sehingga, meski Nariska menempati posisi kedua, medali perak tidak diberikan.

Permasalahannya adalah peraturan tersebut tidak dibicarakan saat techinal meeting dan tidak tertera di dalam THB. Hal itulah yang membuat Glenn menjadi geram. Sebab, jika pada technical meeting diberi tahu peraturan tersebut, maka ia dan para atlet akan menerimanya.

“Dikatakan di situ bahwa dalam THB dikatakan satu negara hanya boleh mendapat satu (medali). Jadi kami kan dapat emas dan perak, lalu kami menyatakan sudah siap di tempat bagian podium, tapi tidak dipanggil dan ternyata negara lain yang masuk,” tutur Glenn, Jumat (6/12/2019).

“Sedang kami proses saat ini, dari mana hal itu dinyatakan bahwa satu negara hanya boleh satu. Kalau memang itu yang dibacakan di dalam technical meeting, saya rasa kami bisa menerimanya dan memberi tahu kepada atlet. Tapi itu tidak dibahas di dalam technical meeting,” lanjutnya.

“Lalu masalah ini kan penting bahwa satu negara hanya boleh satu. Harusnya dia katakan apakah kita semua setuju, baru kita katakan oke. Tapi itu tidak ditanyakan. Hanya tanya apa semua paham? Kami cari di THB tidak ada (peraturan) itu. Hanya dikatakan pemenang adalah satu, dua, tiga, emas, perak, dan perunggu dibagikan. Tidak dikatakan satu negara hanya boleh maksimal satu medali,” pungkas Glenn.

(Fetra Hariandja)

Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Sport lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement