PERTAMA kali bagi Indonesia berhasil memenangkan Piala Thomas dengan kemenangan besar di final yakni dengan skor 9-0. Tak tanggung-tanggung, lawan yang ditaklukkannya adalah musuh bebuyutannya, yakni Malaysia
Indonesia saat itu bisa dikatakan sebagai dream team yang diperkuat para juara-juara All England pada era itu. Sebut saja, Rudy Hartono dan dua pasangan Christian Hadinata/Ade Chandra serta Tjun Tjun/Johan Wahyudi. Tak lupa, sang pemilik smash tercepat di dunia saat itu, Liem Swie King.
Pada hari pertama, Indonesia menurunkan Liem di partai pertama melawan Phua Ah Hua. Keagresifan King pun langsung dipertunjukkan dengan mengakhiri kemenangan Indonesia dengan skor 15-12 dan 15-1. Lalu sang juara All England delapan kali, Rudy, menyelesaikan partai kedua dengan kemenangan dua set langsung yakni 15-7 dan 15-5, atas Saw Swee Leong.
Dua ganda putra Indonesia yang sama-sama pernah juara All England juga tak mampu dibendung pasangan-pasangan Malaysia. Sekali lagi, skor telak dipertunjukkan Christian/Ade dengan kemenangan atas James Selvaraj/Moo Foot Lian 15-4 dan 15-1.
Praktis hanya Tjun/Johan yang mendapat perlawanan dari Malaysia di hari pertama lewat pasangan Dominic Soong/Cheah Hong Chong. Meski begitu, Tjun/Johan berhasil menaklukkan pasangan itu dengan skor 13-15, 15-6, dan 15-6.
Pada hari kedua, Indonesia semakin menunjukkan keperkasaannya. Tjun yang kali ini turun di nomor tunggal putra berhasil membuka peluang Indonesia untuk merebut piala Thomas setelah menang atas James 15-1 dan 15-7. Indonesia semakin di atas angin karena berhasil menang 5-0.
Tiba saatnya di partai penentuan yakni Liem menghadapi Saw di partai keenam. Tak ingin terlewatkan begitu saja, kesempatan emas ini langsung dimanfaatkan Liem untuk mempertahankan Piala Thomas 1976 dengan menang dua set langsung 18-15 dan 15-3.
Piala Thomas pun kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi untuk yang kelima kalinya. Sementara tiga partai yang tidak menentukan lagi tetap dimenangkan Indonesia, lewat Rudy dan pasangan Christian/Ade serta Tjun/Johan.
Liem akhirnya menuliskan kisah suksesnya di Piala Thomas 1976 dalam bukunya ‘Panggil Aku King’ sebagai salah satu momen terbaiknya. Dalam bukunya, ia bahkan menyebutkan momen kembalinya Piala Thomas di 1976 setelah menang 9-0 atas Malaysia, sangat disambut meriah oleh masyarakat di Tanah Air.
“Saat kembali ke Tanah Air, aku menyaksikan spanduk besar terbentang di Bandara Halim Perdana Kusuma, ‘Selamat Datang Para Pahlawan Bulu Tangkis.’ Ribuan orang tampak berdesak-desakan hingga ke atap gedung bandara dan melambai-lambaikan tangan,” tulis Liem dalam bukunya.
(Fetra Hariandja)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.