Selain cedera, Widi juga menilai persaingan di kelasnya semakin kompetitif dengan munculnya banyak atlet muda. Ia bersyukur masih mampu mempertahankan performa dan bersaing dengan para atlet yang lebih muda.
"Sekarang di kelas saya banyak sekali atlet muda. Saya dan atlet asal China rasanya sudah seperti legenda di antara mereka. Namun, saya bersyukur masih bisa menjaga performa dan bersaing dengan atlet-atlet muda ini," ungkapnya.
Mengenai masa depannya di Asian Para Games, Widi mengisyaratkan edisi 2026 kemungkinan menjadi penampilan terakhirnya dalam ajang tersebut. Saat ini, ia memilih memprioritaskan pemulihan cedera bersama tim medis dan fisioterapis di Solo sembari mengejar poin kualifikasi menuju Paralimpiade 2028.
"Saya punya tim medis dan fisioterapis di Solo yang terus mendampingi pemulihan bahu saya,” kata Widi.
“Target utama saya saat ini adalah fokus menyembuhkan cedera dan mengejar peringkat dunia agar bisa lolos ke Paralimpiade LA dua tahun lagi, yang kemungkinan akan menjadi Paralimpiade kelima sekaligus penutup karier saya," pungkasnya.
Sementara itu, atlet Indonesia lainnya di nomor 41 kilogram putri, Eliana, menempati posisi keenam dengan angkatan terbaik 80 kilogram. Adapun Abdul Hadi yang tampil di nomor 49 kilogram putra gagal mencatatkan angkatan sah setelah tiga kali percobaan.
Medali perunggu Widi menjadi hasil penting bagi Indonesia pada hari pertama pertandingan setelah upacara pembukaan Asian Para Games 2026. Raihan tersebut untuk sementara menempatkan Indonesia di posisi keenam klasemen perolehan medali.
(Wikanto Arungbudoyo)