“Kami Satu-satunya ganda putra Indonesia dan dipandang sebelah mata karena bulutangkis Indonesia hanya terkenal tunggal putranya saja. Tetapi kami mampu membuktikan diri sebagai juara,” sambung Christian.
Meski spesialis ganda, Christian juga memiliki kemampuan komplet hingga sempat turun di nomor tunggal putra All England 1973 dan keluar sebagai runner-up setelah kalah dari rekan senegaranya, Rudy Hartono. Ketangguhannya terbukti lewat berbagai raihan gelar bergengsi di sektor ganda putra maupun ganda campuran bersama banyak partner berbeda.
Salah satu kisah paling ikonik terjadi pada Kejuaraan Dunia 1980 di Jakarta, di mana ia sukses menyabet dua gelar juara sekaligus di tengah kekhawatiran luar biasa menjelang persalinan istrinya. Ketenangannya di lapangan membuat ia mampu beradaptasi dengan cepat dan meracik strategi terbaik bersama siapa saja pasangan bermainnya di lapangan.
Kunci kesuksesan Christian dalam merajut chemistry dengan berbagai pemain junior maupun senior terletak pada sikap mengalah dan kemampuannya memahami karakter partner. Ia selalu membangun komunikasi yang baik sebelum bertanding untuk menyesuaikan pola permainan, baik itu saat berpasangan dengan Icuk Sugiarto, Ivana Lie, Lius Pongoh, maupun pemain lainnya.
Setelah menutup lembaran karier internasionalnya lewat gelar juara di US Open 1988, Christian memutuskan mundur dari Pelatnas dan bergabung dengan klub PB Djarum. Di klub asal Kudus tersebut, ia melanjutkan pengabdiannya sebagai pelatih handal dan mendirikan pusat pelatihan khusus sektor ganda di Jakarta demi melahirkan bibit-bibit unggul masa depan.
(Rivan Nasri Rachman)