LEGENDA tinju dunia, Cassius Marcellus Clay Jr. atau yang lebih dikenal dengan nama Muhammad Ali, meninggal dunia hari ini, Sabtu 4 Juni 2016 di Phoenix, Arizona. Sepanjang hidupnya, Muhammad Ali dikenal sebagai sosok yang kontroversial dengan tingkah laku dan komentar-komentar yang terdengar angkuh bagi lawan-lawannya.
Namun, di antara semua itu, kepercayaan yang dianut Muhammad Ali mungkin merupakan bagian yang paling banyak diperdebatkan dalam hidup petinju kenamaan itu. Dia mungkin merupakan tokoh paling berpengaruh yang berpindah keyakinan dari Kristen ke Islam pada abad ke-20.
Saat mengganti namanya dari Cassius Clay menjadi Muhammad Ali pada 1964, tokoh karismatik itu tidak hanya menimbulkan kegemparan, tapi juga memperkuat hubungannya dengan umat Muslim Amerika Serikat (AS) dan dunia.
“Mereka menyebutnya Muslim Hitam,” kata Ali yang saat itu berusia 22 tahun. “Ini adalah julukan dari pers, bukan nama yang sah. Tapi Islam adalah sebuah agama dan ada 750 juta orang di dunia ini yang mempercayainya, dan saya salah satu di antaranya,” tegasnya sebagaimana dilansir IB Times, Sabtu, (4/6/2016).
Sepanjang hidupnya Muhammad Ali terus berjuang untuk mempromosikan Islam yang damai. Dia bahkan menolak untuk bergabung dengan militer pada Perang Vietnam karena menolak membunuh dan mengatakan,“Saya tidak memiliki masalah dengan Vietcong.”
Perjuangan untuk hak-hak Muslim juga ditunjukkannya saat memprotes pernyataan salah satu kandidat presiden AS, Donald Trump yang menyatakan akan melarang umat Muslim untuk masuk ke AS baru-baru ini.
Meninggalnya Muhammad Ali membuat komunitas Muslim AS kehilangan seorang sosok yang memberikan mereka pengaruh positif.
(Pidekso Gentur Satriaji)