JAKARTA - Hasil buruk yang dicapai pebulutangkis Tanah Air di All England 2008, tentu menyisakan duka mendalam. Pasalnya, perhelatan akbar yang baru saja selesai bergulir, dapat menjadi barometer paling realistis untuk menilik kekuatan bulutangkis Indonesia. Tantangan terdekat adalah Thomas-Uber dan Olimpiade Beijing.
All England memang menjadi indikator utama membaca peta kekuatan bulutangkis di dunia saat ini. Pasalnya, di turnamen inilah semua pebulutangkis terbaik dunia akan ngotot menjadi yang terbaik.
Dan di turnamen ini, kontingen Merah Putih harus kembali ke Tanah Air dengan gigit jari. Satu gelarpun tak tersisakan bagi Taufik Hidayat dkk. Semua pebulutangkis pelatnas Cipayung tumbang. Bahkan, Indonesia hanya mewakilkan satu tiket di partai final, melalui ganda campuran Nova Arianto/Liliyana Natsir. Itupun berakhir dengan kekalahan.
Menilik pada hasil terakhir itu, tentu dua target PB PBSI pada 2008 merebut kembali Piala Thomas dan mempertahankan tradisi emas Olimpiade masih menjadi tanda tanya besar. Padahal, sisa waktu yang ada hanya tinggal dalam hitungan hari saja. Piala Thomas-Uber akan dilangsungkan di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, 11-18 Mei dan diikuti Olimpiade Beijing, 8-24 Agustus.
Menjadi tuan rumah tentu menjadi satu keuntungan bagi tim Thomas-Uber Indonesia. Namun tanpa diiringi keseriusan dan kerja keras tentu keuntungan ini malah bisa menjadi tiada artinya. Alih-alih bisa menjadi mimpi buruk di kandang sendiri. Hasil lain yang tidak bisa dipungkiri yakni jarangnya pebulutangkis tanah air yang pulang membawa gelar di berbagai seri grand prix.
Sejarah memang masa lalu dan bukan faktor utama penentu keberhasilan. Namun, tidak bisa dipungkiri sejarah tentu dapat menjadi malaikat penjaga semangat dan motivasi pemain tanah air untuk menatap lembaran sejarah baru nantinya.
Dalam sejarah Piala Thomas, Indonesia tetap tercatat sebagai yang terbesar. Kompetisi perebutan supremasi bulutangkis beregu putra ini digelar pertama kali pada 1948. Dari 24 laga, Indonesia menjadi kampiun sebanyak 13 kali, Cina 6 kali, dan Malaysia 5 kali. Dari 56 negara yang pernah berpartisipasi, memang hanya tiga negara Asia ini yang pernah juara.
Indonesia juga harus menatap Olimpiade Beijing dengan menilik pada sejarah. Tradisi emas sejak Olimpiade Barcelona pada 1992 silam tentu harus menjadi motivasi bagi Taufik Hidayat dkk untuk menatap Olimpiade Beijing, Agustus nanti.
Selama kurun waktu empat kali penyelenggaraan Olimpiade terakhir, bulutangkis Indonesia memang selalu mampu mempersembahkan emas bagi kontingen Indonesia. Alan Budi Kusuma di sektor tunggal putra dan Susi Susanti di tunggal putri telah memberikan emas pertama bagi kontingen Indonesia di ajang Olimpiade. Pasangan suami istri ini menjadi yang terbaik di Barcelona pada 1992 silam.
Di Olimpiade Atalanta 1996, giliran ganda putra Ricky Subagia/Rexy Mainaky yang mempersembahkan emas bagi kontingen Indonesia. Bahkan dominasi sektor ganda Indonesia terus berlanjut saat Tony gunawan/Candra Wijaya kembali mempersembahkan satu emas di Olimpiade Sydney pada 2000 lalu. Tradisi emas Indonesia kembali di pertahankan Taufik Hidayat yang berhasil berjaya di Olimpiade Athena, 2004 lalu.
Nah, pada agenda yang dicanangkan PBSI tahun ini, tentu Piala Thomas dan tradisi emas Olimpiade wajib di dapat. Memang berat, namun kerja keras dan doa seluruh rakyat Indonesia menjadi modal utama bagi kontingen bulutangkis Indonesia dalam menghadapi dua agenda besar tersebut.
Kita lihat, apakah prestasi duta-duta bulutangkis Indonesia akan terkubur di 2008 ini?
(Fetra Hariandja)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari