AICHI-NAGOYA – Ajang multi-olahraga internasional bagi penyandang disabilitas, Asian Para Games 2026, resmi dibuka secara megah dan penuh makna di Stadion Paloma Mizuho, Prefektur Aichi, Nagoya, pada Minggu (18/10/2026) malam. Menariknya, Kontingen Indonesia tampil memukau dalam defile pembuka.
Sebanyak 47 delegasi Indonesia yang terdiri atas atlet, pelatih, dan tim chef de mission (CdM) berjalan anggun mengenakan busana khusus rancangan desainer ternama, Ivan Gunawan. Sementara itu, kontingen tuan rumah Jepang mendapat kehormatan tampil di barisan paling akhir.
Kostum yang dikenakan kontingen Indonesia mengusung filosofi mendalam perpaduan Batik Sekar Jagat dan semangat kemenangan. Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia, Reda Manthovani, memastikan seluruh persiapan telah berjalan matang sebelum acara dimulai.
“Kostum ini punya tema yang unik. Kostum ini dibuat khusus oleh desainer Ivan Gunawan. Bahkan rencananya Ivan Gunawan pun ikut defile tersebut,” kata Reda dalam keterangannya, dikutip Senin (19/10/2026).
“Ini dia yang rancang sendiri, dari baju, jaket, sampai ke sepatu. Sudah saya coba juga sepatunya,” tambah Reda.
Melalui akun Instagram-nya @ivan_gunawan, Ivan Gunawan membuka kisah di balik karyanya. Dia mengaku terinspirasi dari motif Batik Sekar Jagat, lalu menerjemahkannya ke dalam desain yang modern, elegan, dan penuh karakter.
“Sekar Jagat melambangkan keindahan dalam keberagaman, sementara Vijaya bermakna kemenangan. Sebuah filosofi tentang keberanian untuk melangkah, kekuatan untuk berjuang, dan semangat untuk terus melampaui batas,” tulis Ivan.
“Saya ingin setiap detail karya ini menjadi simbol bahwa keterbatasan bukanlah batas untuk bermimpi, berkarya, dan mengukir prestasi,” tambahnya.
Pria yang akrab disapa Igun ini mengaku bangga bisa terlibat dalam perjalanan para atlet menuju Nagoya. Jadi, dia totalitas dalam memberikan kontribusi.
“Bagi saya, seragam bukan sekadar pakaian. Di dalamnya ada identitas, kebanggaan, semangat, dan doa yang ikut melangkah bersama para pejuang bangsa,” imbuh dia.
“Bawa semangat Merah Putih, bawa nama Indonesia, dan pulanglah dengan cerita kemenangan,” tambahnya.
Acara pembukaan mengusung konsep utama "We Are Beautiful Individuals", yang memiliki makna bahwa keunikan setiap orang melampaui batas disabilitas, kebangsaan, dan budaya. Ajang multievent olahraga internasional untuk penyandang disabilitas ini menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya diselenggarakan di Jepang.
Disaksikan langsung oleh Yang Mulia Kaisar Jepang Naruhito, antusiasme masyarakat sudah tampak sejak pukul 16.00 waktu setempat, saat mereka berbondong-bondong memadati setiap sudut tribun stadion. Menjelang detik-detik pembukaan, penonton di stadion diajak berlatih yel-yel sambutan bersama maskot resmi 'UZUMIN' dan mantan atlet seluncur indah profesional, Murakami Kanako.
Penonton dipandu untuk meneriakkan sorakan "HEE-HEE!" guna menyambut kedatangan para pahlawan olahraga Asia. Suasana berubah khidmat saat Kaisar Naruhito, Yang Mulia Pangeran dan Putri Mahkota Akishino, serta Presiden Asian Paralympic Committee (APC) Majid Rashed memasuki Presidential Box pada pukul 18.00.
Bendera nasional Jepang kemudian dibawa masuk oleh enam tokoh olahraga disabilitas, termasuk ahli prostetik Fumio Usui dan mantan kapten tim bola basket kursi roda Shinji Negi, sebelum dikibarkan oleh anggota pasukan bela diri Jepang.
Segmen artistik pembuka menampilkan karakter boneka burung hantu 'Konoha' yang menantikan selesainya gerbang penyambutan. Rangkaian acara dilanjutkan dengan parade atlet.
Sebanyak 45 kontingen negara, termasuk Indonesia berjalan melewati 'Welcome Gate'. Pertunjukan seni bertajuk 'The Festival of Flame' yang disutradarai oleh Kaiji Moriyama berhasil memompa gairah penonton.
Tarian GAKU oleh kelompok penari NEKKO-TAI serta penampilan penari utama HA-RE semakin menghidupkan gairah di stadion. Suasana terasa kian magis ketika para Oni (makhluk mitologi tradisional Jepang) dari Festival Oni Toyohashi, Kuil Takisanji, serta Festival Hana muncul dari berbagai penjuru stadion.
Diiringi tabuhan genderang dan hamburan tepung putih suci, para Oni menyucikan serta mempersiapkan bumi tempat para atlet bertanding demi mewujudkan kedamaian dan hasil yang berlimpah.Estafet obor yang melibatkan tujuh tokoh penting dunia olahraga disabilitas, termasuk Junichi Kawai dan Momoka Muraoka, berakhir di kuali utama.
Tiga pembawa obor terakhir sukses menyalakan kayu bakar dan jerami di dalam kuali buatan tangan para pengrajin lokal. Upacara ditutup dengan Grand Finale pada pukul 19.50 JST.
Karakter 'Konoha' mengepakkan sayapnya, sementara seluruh pengisi acara dan penonton bertepuk tangan dalam irama tradisional san-san-nana-byoshi.
(Rivan Nasri Rachman)