BALAPAN sepeda road race di Indonesia memang tengah berkembang pesat. Masih-masing daerah di Indonesia memanfaatkan ajang internasional ini untuk menggaet perhatian banyak pihak. Tak semata-mata menonjolkan sisi olahraga, balapan sepeda road race umumnya dijadikan ajang promosi kekayaan pariwisata.
Maklum saja, balapan road race yang diselenggarakan di Indonesia umumnya melewati tempat-tempat bersejarah atau pariwisata alam yang ada. Itu tentu menjadi modal bagus agar pariwisata di Indonesia semakin maju.
Namun dari segi olahraga, tak mudah untuk mempersiapkan sebuah gelaran road race berskala internasional. Pihak penyelenggara tak bisa sembarangan menyatakan diri menggelar balapan internasional. Terdapat organisasi Union Cycliste Internationale (UCI) yang mengatur regulasi sebuah balapan internasional.
UCI juga turun langsung dalam gelaran Tour de Linggarjati yang berlangsung akhir pekan lalu. Gelaran Tour de Linggarjati memang baru dua kali diselenggarakan. Namun harus diakui bahwa gelaran kali ini jauh lebih baik jika yang dibandingkan edisi pertama. Setidaknya terdapat delapan negara asal pembalap yang berpartisipasi di ajang Tour de Linggarjati.
Dalam gelaran kedua ini, pihak penyelenggara memerhatikan betul segala aspek yang dibutuhkan dalam sebuah balapan road race termasuk yang terutama adalah kesehatan para pembalap. Perlu menjadi catatan bahwa gelaran Tour de Linggarjati memang melewati lintasan yang cukup ekstrem. Para pembalap disuguhkan dengan tanjakan dan turunan yang disertai tikungan tajam. Terlebih lagi minimnya lintasan datar membuat tenaga para pembalap terkuras habis.
Demi mengantisipasi sesuatu yang tak diinginkan, panitia telah menyiapkan tim dokter yang berasal dari seluruh rumah sakit baik milik swasta maupun pemerintah yang ada di Kabupaten Kuningan. Tak hanya melibatkan para dokter, tim kesehatan juga melibatkan banyak pihak untuk menangani kecelakaan.
Menurut penuturan Dokter Kris Yudi dan Dokter Edi Martono yang menjadi bagian dari tim medis Tour de Linggarjati, setidaknya 160 orang telah dilatih untuk mempersiapkan gelaran Tour de Linggarjati. Seluruh anggota medis yang berasal dari 37 Puskesmas serta delam rumah sakit baik swasta maupun milih pemerintah hadir dalam persiapan baik secara teori maupun praktek.
Pihak tim medis juga mengaku telah melakukan pengecekan rute setelah pihak panitia menentukan jalur yang dilewati. Dalam pengecekan rute tersebut, tim medis melakukan evaluasi dan membagi menjadi daerah rawan kecelakaan dan daerah dengan potensi kecelakaan ringan.
“Persiapan sudah dilakukan jauh-jauh hari. Kami juga melakukan pengecekan rute untuk mencari jalur alternatif serta mencari titik-titik rawan untuk menempatkan ambulan. Kam juga mendapat bantuan dari radio antar penduduk untuk melakukan evakuasi,” ujar Dokter Kris Yudi saat ditemui Okezone.
Menurut pantauan Okezone, tim medis yang bertugas cukup cepat dalam bertindak. Para pembalap yang mengalami kecelakaan langsung dilarikan ke rumah sakit dan diadakan rontgen untuk mengetahui akibat dari kecelakaan.
Balapan tahun ini memang menjadi ujian tersendiri bagi tim medis. Bagaimana tidak, rute yang panjang membuat mereka harus waspada dengan kecelakaan yang terjadi. Ini jelas berbeda dengan gelaran pertama yang tak sepanjang gelaran tahun 2016.
Sebagai catatan, balapan Tour de Linggarjati memang beberapa kali diwarnai kecelakaan. Pada hari pertama terdapat satu pembalap yang mengalami kecelakaan dan tak bisa melanjutkan balapan di dua etape selanjutnya. Sementara pada etape kedua dan ketiga, kecelakaan masih tak bisa dihindarkan. Itu terjadi karena sulitnya karakteristik lintasan di Tour de Linggarjati.
(Ramdani Bur)