FORMULA One (F1) resmi mengumumkan kembalinya Grand Prix (GP) Afrika melalui kerja sama berdurasi 10 tahun dengan Rwanda. Keputusan ini sekaligus mewujudkan impian besar juara dunia tujuh kali, Lewis Hamilton, yang selama bertahun-tahun gencar menyuarakan agar F1 kembali menyambangi benua tersebut.
Ajang balap jet darat tercatat terakhir kali melesat di daratan Afrika pada GP Afrika Selatan tahun 1993. Sejak saat itu, Hamilton terus memimpin dorongan agar F1 bisa kembali menyapa para penggemar di sana sebelum masa pensiunnya tiba.
Kendati demikian, ajang tersebut baru diproyeksikan masuk ke dalam kalender F1 pada awal dekade 2030-an. Hal ini mengisyaratkan Hamilton akan berusia setidaknya 45 tahun saat balapan di Rwanda tersebut akhirnya direalisasikan.
Situasi tersebut memicu candaan dari Hamilton. Menjelang GP Amerika Serikat, pembalap yang kini membela Ferrari itu berseloroh bahwa dirinya terpaksa memeperpanjang karier balapnya hingga usia 40-an demi merasakan atmosfer balapan di benua impiannya.
“Saya menantikan untuk bisa lebih lama bersaing di sana (Afrika). Maksud saya, sekarang saya ‘terpaksa’ harus bertahan lebih lama karena akan ada balapan di Afrika, dan berlomba di Afrika adalah impian saya,” ungkap Hamilton, mengutip dari Crash, Sabtu (23/10/2026).
Keberhasilan membawa kembali F1 ke Afrika tidak terjadi begitu saja. Hamilton mengungkapkan betapa gigihnya ia melobi berbagai pihak penting, termasuk CEO F1 Stefano Domenicali, melalui serangkaian pertemuan dan diskusi yang intensif.
Usaha Hamilton tidak hanya terbatas pada pimpinan F1 semata. Ia juga aktif menjalin komunikasi langsung dengan para pemimpin negara di benua Afrika untuk membuka jalan bagi hadirnya ajang balap paling bergengsi di dunia tersebut.
"Saya sudah bertahun-tahun memperjuangkan balapan di Afrika, mengadakan pertemuan tak terhitung jumlahnya dengan para pemangku kepentingan dan Stefano," sambung Hamilton.
Bagi pembalap asal Inggris ini, GP Afrika memiliki makna yang jauh lebih dalam sekadar ajang olahraga semata. Ia memandang balapan ini sebagai sarana efektif untuk menyoroti keindahan serta kekayaan budaya yang dimiliki oleh benua tersebut ke mata dunia.
Melalui liputan global F1, Hamilton berharap anak-anak di berbagai belahan dunia dapat mengenal dan membicarakan negara-negara Afrika yang mungkin sebelumnya kurang mereka ketahui.
"Afrika adalah tempat yang sangat layak memiliki Grand Prix. Ini bukan hanya tentang satu negara, melainkan tentang seluruh benua yang memiliki budaya begitu kaya dan masyarakat yang ramah," pungkasnya.
(Rivan Nasri Rachman)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.