JAKARTA – Lee Chong Wei bukan satu-satunya pebulutangkis yang diduga terlibat kasus doping. Ada beberapa nama yang sebelumnya terlibat menggunakan barang haram oleh federasi bulutangkis dunia (BWF).
Sebelumnya ada pebulutangkis putra Korea Selatan, Lee Yong Dae dan Kim Ki-jung. Mereka diduga terlibat doping karena sempat absen menjalani tes yang sebelumnya diundang oleh BWF. Alhasil, badan dunia bulutangkis itu memberi denda kepada Asosiasi Bulutangkis Korea (BKA) sebesar USD40 ribu.
Lee Yong Dae, dihukum tidak boleh tampil satu tahun karena tidak mengikuti pemeriksaan doping, sedangkan rekannya, Kim Ki Jung juga dihukum selama satu tahun dengan alasan yang sama. Hukuman itu berlaku hingga 23 Januari 2015.
Lee Yong Dae (Foto: Rintani Mundari/Okezone)
BKA sempat membantah kalau dugaan tersebut tidaklah benar. Mereka berdalih bahwa dua pebulutangkis andalannya itu sedang menjalani kompetisi-kompetisi internasional.
"(Lee) Yong-dae dan Ki-jung tidak menggunakan obat-obat terlarang, menolak tes doping, atau sengaja menghindari. Hukuman ini dinilai ekstrim dan tidak adil," ucap BKA seperti dilansir AFP beberapa waktu lalu.
Tak lama kemudian, tepatnya pada 15 April 2014, BWF mencabut sanksi untuk kedua pemain, lantaran ada bukti baru yang membuat mereka terbebas dari hukuman. Kedua pemain itu dinyatakan telah memenuhi syarat untuk segera bermain kembali.
Skandal doping memang cukup jarang kita temui di dunia bulutangkis, tapi jika kita lihat dari dunia olahraga secara umum, doping seakan menjadi salah satu cara instan untuk para atlet yang ingin tampil prima di tengah jadwal yang padat dan persaingan yang semakin ketat.
Salah satu contohnya adalah dari arena balap sepeda, di mana nama Lance Armstrong positif menggunakan doping pada 2013. Juara dunia Tour de France tujuh kali ini menggunakan obat-obatan untuk meningkatkan kinerja.
Alhasil, tujuh gelar pemenang Tour de France yang disandangnya dilucuti setelah Badan Anti-Doping Amerika mengatakan pihaknya memiliki bukti kuat kalau Lance Amstrong terlibat dalam sebuah program doping terlarang yang rumit.
Sepakbola menjadi arena yang paling banyak yang memberitakan soal doping. Pemain kenamaan seperti Adrian Mutu misalnya, yang sempat dihukum selama sembilan bulan setelah positif kedapatan menggunakan Sibutramine, sebuah zat untuk menekan rasa lapar.
Bahkan isu doping di lapangan hijau sudah menjamur sejak 1954. Nama-nama tenar seperti Beckenbauer pada 1977, Zico pada 1987, dan Diego Maradona pada Piala Dunia 1994 tak terlepas dari dugaan menggunakan doping.
Dan yang paling hangat adalah ketika pergelaran Asian Games 2014 lalu di Incheon, Korea Selatan. Pada pesta olahraga bangsa-bangsa Asia itu, ada lima kasus yang ditemukan oleh pihak penyelenggara.
Dari cabang sepakbola, bek internasional Tajikistan, Khurshed Beknazarov dinyatakan positif menelan Methylhexaneamine ketika laga pembuka melawan Singapura 14 September lalu.
Doping juga merambah ke cabang soft tennis, di mana atlet Kamboja Yi Sophany berusia 18 tahun dinyatakan positif menggunakan stimulan Sibutramine, setelah diuji pada 16 September sebelum pergelaran Asian Games dimulai.
Petinju kelas berat Irak, Mohammed al Aifuri yang menduduki urutan ketujuh kelas berat super namun ia dinyatakan positif mengandung Steroid. Karateka Suriah, Nour-Aldin al-Kurdi berusia 19 tahun terbukti positif mengonsumsi Dlenbuterol dan sudah didiskualifikasi sebelum pertandingan dimulai.
Atlet Wushu Malaysia, Tai Cheau (foto: Reuters)
Bahkan Malaysia harus kehilangan emasnya dari cabang Wushu, ketika atletnya Tai Cheau dinyatakan positif mengonsumsi Sibutramine setelah diuji pada 20 September atau setelah dia menjuarai nomor nandao dan nanquan all-round puteri.
Ironisnya, ini merupakan medali emas pertama Malaysia di Asian Games Incheon. Tapi akhirnya jatuh ke tangan atlet Indonesia, Juwita Niza Wasni yang sebelumnya hanya meraih medali perak.