Bermula dari Iseng

Muhammad Mirza, Jurnalis
Senin 14 Juli 2008 21:03 WIB
Share :

SAMARINDA - Sosoknya belum terlihat bersama kontingen DKI Jakarta saat PON XVI/2004 di Palembang. Dia juga tidak bisa berbuat banyak ketika Pra PON XVII/2008 di Jakarta. Tapi, saat partai final softball putri melawan Jawa Barat, dia mampu menjadi pahlawan kemenangan dan mengakhiri penantian timnya.

Dialah Tasya Nabila Djani. Berkat pukulan hebatnya menjelang akhir pertandingan di ining 11, DKI Jakarta berhasil memetik keunggulan 7-6 atas Jabar di Lapangan Softball Segiri, Samarinda. Sukses tersebut serta merta meyelesaikan masa paceklik yang berlangsung selama sembilan tahun. Tak mengherankan jika pujian terus membanjirinya.

Tasya mengaku tak pernah terlintas dalam pikirannya bisa merasakan euforia seperti ini. "Sebenarnya, saya tidak pernah berniat jadi pemain softball. Ketika masih berusia 7 tahun, saya sekedar coba-coba saja. Uniknya, saya malah keterusan dan akhirnya masuk tim pelatnas," ujar Tasya. Itu bisa dimaklumi. Pasalnya, dara kelahiran Jakarta, 25 Febuari 1990 ini bukan berasal dari keluarga atlit.

Perjalanan karir Tasya di arena softball tidak semulus perkiraan. Sejak bergelut di olahraga ini untuk kali pertama pada usia 7 tahun, dia sudah berulang kali ganti pelatih. Imbasnya, dia kesulitan mencari gaya permainannya. Untungnya dia mendapat pertolongan dari Iwan Pujianto yang kini menjabat sebagai pelatih.

Berkat bimbingan Iwan, kemampuan Tasya meningkat pesat. "Saat menjabat posisi ini (pelatih) pada 2004, saya melihat potensi besar dalam diri Tasya. "Tasya punya pukulan bagus. Penjagaanya juga kokoh, serta memiliki semangat berlatih tinggi," ungkap Iwan. Metode melatih yang digunakan Iwan terhadap Tasya cukup mumpuni.

Iwan mengatakan selalu menempakan dirinya sebagai kakak atau orang tua Tasya. Itu dilakukan untuk menjaga psikologis serta emosinya. Pasalnya, empat tahun lalu Tasya masih remaja. "Seperti halnya remaja, Tasya saat itu belum bisa berkonsentrasi penuh pada satu hal. Karena itu, saya menggunakan metode lain untuk melatihnya," tambah Iwan.

Bagi Tasya, Iwan merupakan sosok pelatih yang tepat. Namun, dia tidak bisa memastikan sampai kapan kerjasama itu berlangsung. Pasalnya, dia ingin menyelesaikan dulu kuliahnya di ITB. Dia tak mau pendidikannya hancur karena terus berkutat dengan softball. "Saya ingin sekali menjadi atlet softball. Tapi, dilain pihak, saya juga tidak mau kuliah saya berantakan," tambah mahasiswi semester 1 jurusan SBM (School Bussiness Management) ini.

Pernyataan Tasya muncul berdasarkan pengalamannya sendiri. Karena lebih mementingkan ujian masuk perguruan tinggi negeri, alumnus SMA 8 Jakarta ini sempat tenggelam di softball. "Aku ingin sekali bergelut di softball dan mengikuti Sea Games 2009. Tapi, saya harus lihat dulu kondisi perkuliahan," tandasnya.

(Azwar Ferdian)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Sports lainnya