Tim Bulutangkis Indonesia Tanpa Turnamen Pemanasan Hadapi Olimpiade Tokyo, Ini Komentar Pelatih

Admiraldy Eka Saputra, Jurnalis · Rabu 09 Juni 2021 05:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 08 40 2422187 tim-bulutangkis-indonesia-tanpa-turnamen-pemanasan-hadapi-olimpiade-tokyo-ini-komentar-pelatih-9v4FkmglVc.jpg Pelatih ganda putri Indonesia, Eng Hian (Foto: PBSI)

JAKARTA - Pelatih ganda putri Indonesia, Eng Hian, menyayangkan pembatalan sejumlah turnamen jelang Olimpiade Tokyo 2020. Menurutnya, hal itu tidak hanya merugikan pemain tapi juga para pelatih dalam menilai hasil latihan mereka.

Turnamen terakhir yang diikuti mereka adalah Yonex Thailand Terbuka dan Toyota Thailand Terbuka, Januari lalu. Sementara di ajang All England, Greysia/Apriyani dan rekan-rekan juga gagal tanding karena seluruh tim Indonesia dipaksa mundur kala itu.

 

"Pasti ada pengaruhnya pembatalan turnamen-turnamen itu, terutama untuk kondisi mentalnya. Sebagai atlet kan butuh suasana kompetisi untuk mencoba hasil latihan. Begitu juga pelatih, untuk bisa menilai hasil latihan ini efektif atau tidak. Tetapi nyatanya tidak ada ajang untuk melakukan itu," ujar Eng Hian dilansir dari laman resmi PBSI, Rabu (8/6/2021).

"Selain itu, kami akhirnya tidak bisa terlalu membaca kekuatan lawan. Tapi berdasarkan hasil turnamen sebelumnya, tanpa mengecilkan negara lain, saya masih melihat persaingan tetap akan dari Jepang, China, dan Korea," lanjutnya.

Baca juga: Kualifikasi Berakhir, Bulu Tangkis Indonesia Loloskan 7 Wakil ke Olimpiade Tokyo 2020

Hal senada juga sebelumnya disampaikan pelatih tunggal putra, Hendry Saputra Ho terkait kerugian para pemain yang akan menghadapi Olimpiade Tokyo 2020 tanpa turnamen pemanasan

Tidak bertanding dalam waktu relatif lama diakui Hendry cukup memengaruhi keadaan. Meski demikian, Hendry menegaskan kalau ia akan berusaha sebaik mungkin untuk membawa para pemainnya ke performa terbaik saat tampil di ajang Olimpiade nanti.

"Kalau untuk masalah sudah lama tidak bertanding, memang akhirnya kita menyiasati dengan konteks pola latihannya saja. Kita coba disamakan seperti pertandingan nanti. Juga di simulasi jadi kita bisa lihat kondisi mereka dan dampaknya apa nanti," ujar

"Batalnya Malaysia Terbuka dan Singapura Terbuka itu cukup berpengaruh. Bagaimana kondisi fisik dan mental anak-anak sebenarnya sudah siap tempur, tapi akhirnya mau tidak mau harus batal," ujar Hendry lagi.

 

"Itu yang kita cermati untuk persiapan ke Olimpiade ini. Ada dua bulan ke depan, kita harus siap dengan keadaan apapun. Jadi bagaimana kita merancang dan mengatur agar nanti bila sudah tiba di sana kondisinya sudah maksimal," ujarnya lagi.

Sekadar diketahui, PBSI sendiri sudah menyiapkan pertandingan simulasi sebagai ajang pemanasan para atlet yang akan berlaga di Olimpiade Tokyo 2020 pada 18-19 Juni di Pelatnas Cipayung. Sementara menena format simulasi latihan sendiri akan segera diumumkan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini