JAKARTA - Pembalap Ferrari, Lewis Hamilton, menyerukan free Palestina hingga Kongo. Hal itu diserukannya setelah F1 kembali digelar di Afrika pada awal 2030.
Pada awal bulan ini, kembalinya F1 ke Afrika telah dikonfirmasi setelah Rwanda menyepakati kontrak selama 10 tahun. Terakhir kali Benua Afrika menggelar balapan F1 adalah pada 1993.
Pengumuman kembali F1 ke Afrika tak lepas dari kontroversi. Sejumlah kelompok hak asasi manusia (HAM) yang menentang kesepakatan tersebut menuduh F1 telah memberikan hadiah pencitraan melalui olahraga (sports washing) kepada Rwanda.
Republik Demokratik Kongo telah mengajukan gugatan terhadap Rwanda awal tahun ini. Republik Demokratik Kongo menuduh negara tetangganya itu melanggar berbagai perjanjian internasional.
“Tentu saja, saya tidak bisa memilih ke mana kita akan pergi, dan saat ini memang ada berbagai masalah di seluruh dunia,” ujar pembalap Ferrari tersebut dalam sebuah konferensi pers di Austin, dikutip dari laman Crash, Jumat (23/10/2026).
“Saya telah membaca banyak berita mengenai hal ini, tetapi menurut saya, kita harus menyikapinya dengan kerendahan hati,” lanjutnya.
Peraih tujuh gelar juara dunia F1 itu mengungkapkan, ada banyak hal tidak diketahui. Ia menceritakan, saat tumbuh besar di Inggris, tidak pernah diajarkan apa pun tentang Afrika.
"Hal ini seharusnya masuk ke dalam kurikulum; banyak masalah yang terjadi di sana merupakan dampak dari kolonialisme dan intervensi pihak Barat,” ujarnya.
Namun, Lewis Hamilton melanjutkan, jika melihat masyarakatnya, akan menemukan begitu banyak karya desain yang luar biasa saat ini.
"Berbagai merek ternama berasal dari Afrika. Benua itu memiliki sumber daya yang sangat melimpah,” tutur Lewis Hamilton.
“Saya sungguh berharap—dan saya masih menaruh harapan—bahwa Afrika bisa bersatu," ucapnya.