Kisah Nasib Naas Hakim Danish di Mandalika, Rival Veda Ega Pratama yang Dinilai Belum Matang Secara Taktik

Rivan Nasri Rachman, Jurnalis
Rabu 21 Oktober 2026 01:00 WIB
Pembalap asal Malaysia, Hakim Danish di Moto3 2026. (Foto: Instagram/hakimdanish_13)
Share :

KIPRAH pembalap muda asal Malaysia, Hakim Danish Ramli, pada seri Moto3 Mandalika 2026 di Sirkuit Mandalika berjalan penuh hambatan. Mentor sekaligus manajernya, Zulfahmi Khairuddin, menilai sang pembalap masih memerlukan peningkatan besar dalam aspek kekuatan mental serta kematangan taktik saat berlaga di lintasan.

Perjalanan debutan asal Malaysia tersebut sudah terjal sejak sesi kualifikasi pertama (Q1). Penunggang motor tim AEON Credit-MT Helmets-MSI ini dijatuhi sanksi memulai balapan dari barisan paling belakang akibat kedapatan melaju terlalu lambat di trek.

Kendati harus mengawali perlombaan dari posisi ke-26, rival sengit rider Indonesia, Veda Ega Pratama ini menunjukkan potensi luar biasa dengan terus merangkak naik hingga menembus zona 10 besar sepanjang balapan berlangsung.

Sayangnya, perjuangan keras tersebut ternoda oleh insiden pada lap terakhir. Danish terlibat kontak dengan pembalap GRYD Racing, Joel Kelso, yang menyebabkan rivalnya tersebut terjatuh dan gagal menyelesaikan balapan.

Akibat insiden tersebut, pengawas balapan menganggap Danish bersalah dan menghukumnnya dengan penalti waktu tiga detik. Posisi finis ke-12 yang diraihnya pun terdegradasi menjadi peringkat ke-14.

Hakim Danish. (Foto: Instagram/hakimdanish_13)

1. Evaluasi Ketahanan Mental dan Taktik

Zulfahmi Khairuddin tak menampik bahwa performa anak asuhnya tersebut cenderung menurun dan kurang konsisten pasca-jeda musim panas.

Zulfahmi menjelaskan bahwa kemampuan Danish menembus 10 besar dari posisi buncit membuktikan kecepatan balapnya mampu bersaing di barisan depan. Kendati demikian, sisi pengelolaan emosi serta kematangan taktik dinilai masih menjadi tantangan besar.

 

"Balapan di Sirkuit Mandalika menyoroti dua aspek penting dalam pengembangan seorang pembalap debutan. Dari sisi positif, kemampuan Danish untuk berjuang dari posisi ke-26 hingga menembus 10 besar menunjukkan bahwa ia memiliki kecepatan untuk bersaing dengan kelompok terdepan jika memulai balapan dari barisan depan,” tutur Zulfahmi, dikutip dari New Straits Times, Rabu (21/10/2026).

2. Penurunan Performa Usai Jeda Musim

Eks pembalap yang membina Danish sejak 2020 melalui skuad ZK Racing ini mengakui adanya penurunan grafik penampilan dari sang pembalap muda. Padahal, Danish sempat tampil mengesankan di awal musim dengan mengamankan podium ketiga di GP Mugello serta mengunci kemenangan perdana kariernya di GP Brno pada Juni lalu.

Pembalap Msi asal Malaysia Hakim Danish (Instagram/@hakimdanish_13)

"Akan tetapi, dalam hal kematangan taktis dan pengelolaan emosi, saya akui masih ada tantangan, terutama terkait ketidakkonsistenan performa sejak pertengahan musim. Ekspektasi tinggi menyusul hasil-hasil gemilang di awal musim juga memberikan tekanan psikologis tambahan baginya,” sambung Zulfahmi.

"Dalam ajang balap motor kelas dunia, selisih sepersepuluh detik saja dalam sebuah balapan bisa menjadi penentu. Ini memerlukan ketahanan mental tingkat tinggi,” tutupnya.

(Rivan Nasri Rachman)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Sports lainnya