PERWAKILAN Prancis baru saja mencetak sejarah baru di dunia bulu tangkis setelah mendulang dua keping medali emas sekaligus pada ajang BWF World Championships 2026 yang berlangsung di New Delhi, India pada akhir pekan lalu. Prestasi gemilang ini dipelopori oleh tunggal putra Alex Lanier serta pasangan ganda campuran Thom Gicquel/Delphine Delrue.
Keberhasilan luar biasa tersebut menjadikan Negeri Perancis sebagai negara Eropa pertama sejak tahun 1977 yang mampu merengkuh lebih dari satu gelar juara dunia dalam satu edisi tunggal. Catatan historis sebelumnya pernah diukir oleh Denmark pada edisi perdana kejuaraan dunia dengan torehan tiga medali emas.
Nama Alex Lanier sendiri kian disegani setelah ia sukses membuktikan kapasitasnya sebagai pebulu tangkis tunggal putra yang sangat tangguh di partai puncak. Berhadapan dengan wakil kuat asal Jepang, Kodai Naraoka, pada Minggu 23 Agustys 2026, Lanier tampil dominan memegang kendali penuh permainan.
Melalui kecepatan serta variasi serangan bertubi-tubi, Lanier sukses menguras fisik Naraoka hingga kesulitan keluar dari tekanan. Pertandingan final yang berjalan selama 50 menit itu akhirnya ditutup Lanier dengan kemenangan dua gim langsung berskor identik 21-11 dan 21-11.
Selepas memastikan gelar juara dunia, atlet berusia 21 tahun ini mengaku sangat bangga melihat bendera negaranya berkibar di podium tertinggi. Menurutnya, pencapaian tersebut merupakan buah dari kerja keras seluruh anggota tim yang telah berkorban demi performa terbaik.
"Saya merasa bangga pada diri sendiri, sekaligus merasa terhormat melihat bendera itu. Seluruh tim telah bekerja sangat keras. Dengan memberikan performa terbaik di lapangan, saya juga turut menghormati bendera tersebut, dan saya bangga melihatnya dikibarkan," terang Lanier, melansir dari laman resmi BWF, Selasa (25/8/2026).
Lanier mengungkapkan kunci kemenangannya terletak pada kombinasi strategi apik antara meladeni reli panjang dan berani mengubah tempo di saat yang tepat. Kesiapan fisik serta tekad yang kuat membantunya mendikte permainan atas lawan asal Jepang tersebut.
"Kombinasi itulah yang perlu saya terapkan, meladeni reli panjang lalu mengubah tempo permainan. Saya benar-benar memanfaatkan hal itu, dan sangat penting bagi saya untuk membuktikan bahwa secara fisik saya mampu meladeni permainan yang menguras tenaga. Tekad saya sangat kuat hari ini," tambahnya.
Sebelum kejayaan Lanier, sejarah bagi kubu Prancis lebih dulu dibuka oleh pasangan ganda campuran Thom Gicquel/Delphine Delrue. Kemenangan ini sekaligus mengakhiri penantian panjang benua Eropa untuk kembali memiliki juara dunia di sektor ganda campuran, melampaui pencapaian medali perunggu mereka di Paris.
Pada partai puncak, Gicquel/Delrue secara perkasa sukses menumbangkan pasangan unggulan utama asal China, Feng Yan Zhe bersama Huang Dong Ping. Lewat pertarungan sengit tiga gim berkesudahan 22-20, 19-21, dan 21-15, wakil Prancis tampil begitu taktis.
Kunci keberhasilan Gicquel/Delrue terletak pada strategi efektif untuk meredam pergerakan Huang Dong Ping di area depan net. Keberanian mereka mengejutkan lawan melalui variasi servis cerdik, termasuk flick serve penutup, sukses mengunci kemenangan bersejarah ini.
(Rivan Nasri Rachman)
Sports Okezone menyajikan informasi terbaru seputar dunia olahraga dengan akurat, cepat, dan terpercaya. Terus ikuti perkembangan menarik dari berbagai cabang olahraga.