Share

6 Anggapan yang Salah Tentang Profesi Atlet di Indonesia, Nomor 1 Paling Diragukan

Cita Zenitha, Jurnalis · Sabtu 06 Agustus 2022 16:44 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 06 43 2643170 6-anggapan-yang-salah-tentang-profesi-atlet-di-indonesia-nomor-1-paling-diragukan-NNSKUm2uRj.jpg Berikut 6 anggapan yang salah tentang profesi atlet di Indonesia (Foto: Instagram/@dilla11)

ADA 6 anggapan yang salah tentang profesi atlet di Indonesia akan diulas oleh Tim Okezone di dalam artikel ini. Sebagaimana banyak diketahui, seorang atlet kerap dianggap sebelah mata, meski secara prestasi para atlet merupakan pahlawan negara.

Hal itu dibuktikan dengan lahirnya sejumlah nama besar dari profesi atlet, yang kerap mengharumkan nama bangsa. Sebut saja di antaranya, Susi Susanti, Taufik Hidayat hingga Evan Dimas.

Mereka semua sebenarnya membuat kaum muda yang berbakat dalam bidang olahraga terus bersemangat untuk mengejar mimpinya. Sayangnya pada 2021 silam, Menteri Olahraga dan Pemuda (Menpora) Republik Indonesia, Zainudin Amali Menpora mengatakan minat pemuda Indonesia untuk menjadi atlet sangat rendah.

Bahkan di Sekolah Khusus Olahraga (SKO), siswanya lebih memilih menjalankan profesi lain ketimbang menjadi atlet profesional. Profesi menjadi atlet profesional sangat dipandang sebelah mata.

Anggapan miring tentang seorang atlet sepertinya sudah menjadi buah bibir di tengah masyarakat, padahal tidak begitu adanya. Lantas, hal apa saja yang kerap dipandang sebelah mata oleh orang banyak?

Berikut 6 anggapan yang salah tentang profesi atlet di Indonesia:

6. Tidak Punya Masa Depan

Di urutan keenam, banyak orang yang salah kaprah mengenai profesi atlet. Ya, ternyata tak sedikit masyarakat Indonesia beranggapan bahwa atlet tidak punya masa depan.

Padahal seiring berjalannya waktu dan berkembangnya kompetensi serta prestasi yang dimiliki, mereka akan mendapatkan pendapatan serta punya jenjang karier yang baik untuk masa depan.

5. Hanya Berkutat pada Satu Bidang Olahraga

Boaz Solossa

Kemudian, tak sedikit yang beranggapan jika seorang atlet hanya berkutat di satu bidang olahraga yang ditekuni. Padahal menjadi seorang atlet tidak selalu berkutat pada olahraga yang mereka tekuni saja.

Sebab, para atlet yang mengharumkan nama bangsa, kerap mendapat keistimewaan tersendiri. Salah satunya seperti Boaz Solossa, eks pemain Timnas Indonesia yang dipercaya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Jayapura. Selain itu, seorang atlet pun bisa pergi keliling dunia secara gratis jika berhasil memenangkan kompetisi.

4. Kariernya Redup Setelah Usai 30 Tahun

Taufik Hidayat

Banyak yang beranggapan karier menjadi seorang atlet tidak akan bertahan lama. Bahkan, karier menjadi atlet sering disamakan dengan pekerja kasar lainnya, karena dianggap hanya melakikan pekerjaan fisik. Padahal keduanya jelas sangat jauh berbeda.

Atlet memiliki prestasi dan tentunya mengharumkan nama bangsa. Profesi atlet lebih tepatnya disamakan dengan pahlawan yang membela Indonesia dalam melawan negara lain.

3. Tidak Punya Kebebasan

Kemudian ada anggapan seorang atlet tidak punya kebebasan. Tampaknya anggapan ini salah besar.

Ya meski seorang atlet terkenal dengan kedisiplinan ketat, seorang atlet berhak memiliki waktu sendiri atau bersama keluarga tercinta. Hal itu diberikan sebagai apresiasi lantaran mereka telah berjuang atas nama negara. 

2. Tidak Bisa Menghasilkan Banyak Uang

Fajar Alfian/Muhammad Rian

Berikutnya ada anggapan yang keliru. Siapa bilang seorang atlet tak bisa hebat secara material. Padahal faktanya, seorang atlet bisa menghasilkan banyak uang apabila menjuarai suatu turnamen. Terlebih jika bertanding di level internasional.

1. Dianggap Buruk Secara Akademik

Aldila Sutjiadi

Kata siapa atlet buruk dalam bidang akademik? Nyatanya banyak sekali atlet yang mampu menyeimangkan antara akademik dan bidang olahraga. Salah satunya seperti Aldila Sutjiadi, atlet tenis peraih medali emas Asian Games 2018.

Aldila Sutjiadi diketahui merupakan lulusan jurusan Matematika Ekonomi di University of Kentucky, Amerika Serikat. Ia pun lulus dari sana dengan IPK 3,92 dalamwaktu empat tahun.

Demikian 6 anggapan yang salah tentang profesi atlet di Indonesia.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini